“Di beberapa lokasi, persediaan saat ini hanya cukup hingga Mei, bahkan bisa lebih cepat habis,” ujarnya, dikutip Reuters.
Untuk mengatasi kondisi ini, sejumlah produsen mulai mencari alternatif pasokan sulfur.
Namun, opsi tersebut terbatas karena volume yang kecil dan jarak pengiriman yang lebih jauh. Sebagian lainnya mencoba mengimpor asam sulfat langsung, meski menghadapi kendala logistik dan perizinan.
Lonjakan harga sulfur juga mengerek porsi biaya operasional HPAL menjadi sekitar 30-35 persen, dari kisaran normal 25 persen.
Tekanan biaya ini datang di saat industri nikel domestik juga menghadapi kenaikan harga bijih.