Kini, pembatasan produksi justru membuat output kembali ke level kapasitas normal. Dampaknya, pasokan nasional tetap besar, tetapi ketersediaan MHP semakin terbatas.
Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusuma, menjelaskan, kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar seperempat pasokan sulfur global, sekaligus memasok 75-80 persen kebutuhan Indonesia.
Gangguan dari wilayah ini langsung mendorong lonjakan harga dan menekan margin produsen.
Harga sulfur spot yang dikirim ke Indonesia kini melonjak di atas USD800 per ton, bahkan sempat menyentuh USD1.000 per ton, dari sekitar USD500 sebelum konflik. Kenaikan tajam ini membuat biaya produksi melonjak dan memicu penyesuaian output.
Arif menambahkan, hingga kini belum ada smelter berteknologi high-pressure acid leach (HPAL) yang menghentikan produksi MHP sepenuhnya. Namun, stok bahan baku di sejumlah pabrik mulai menipis.