Rosan menjelaskan, pengembangan tersebut tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga menjadi bagian dari strategi meningkatkan daya saing sektor pariwisata nasional.
Dia menilai jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan ASEAN seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura. Selain jumlah wisatawan, tingkat pengeluaran wisatawan atau average spending di Indonesia juga dinilai masih perlu ditingkatkan.
“Nah, oleh sebab itu bukan hanya dari jumlah pariwisatanya sendiri, tapi juga bagaimana kita meningkatkan apa, average spending-nya kita juga kalah. Average spending kita itu baru 1.100 mungkin lebih per day,” ujar Rosan.
Rosan pun membeberkan, pengelolaan kawasan dapat melibatkan perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor pariwisata dan perhotelan yakni PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney dan The Meru.
“Kita kan punya InJourney, kita punya yang namanya Meru, ya kan? Ya nanti kalau ini semua sudah selesai di Mensesneg, ya tentunya pengelolaannya kita akan pakai bisa InJourney, Meru, dan kan Meru juga sangat-sangat baik ya. Mungkin itu rencananya,” kata dia.
(Dhera Arizona)