AALI
12250
ABBA
190
ABDA
0
ABMM
3000
ACES
975
ACST
157
ACST-R
0
ADES
5950
ADHI
685
ADMF
8100
ADMG
179
ADRO
3200
AGAR
330
AGII
2000
AGRO
930
AGRO-R
0
AGRS
125
AHAP
62
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
156
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
930
AKRA
1005
AKSI
280
ALDO
905
ALKA
294
ALMI
290
ALTO
208
Market Watch
Last updated : 2022/05/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
543.27
1.51%
+8.07
IHSG
6914.14
1.07%
+73.37
LQ45
1015.93
1.33%
+13.36
HSI
20112.10
-1.75%
-357.96
N225
26748.14
-0.94%
-253.38
NYSE
0.00
-100%
-15035.87
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,358 / gram

Tak Seharum Wanginya, Teten Masduki Beberkan Delapan Kendala Produksi Kopi di RI

ECONOMICS
Advenia Elisabeth/MPI
Senin, 17 Januari 2022 16:34 WIB
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menguraikan beragam tantangan produksi kopi nusantara yang diramu oleh UMKM.
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menguraikan beragam tantangan produksi kopi nusantara yang diramu oleh UMKM.  (Foto: MNC Media)
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menguraikan beragam tantangan produksi kopi nusantara yang diramu oleh UMKM. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menguraikan beragam tantangan produksi kopi nusantara yang diramu oleh UMKM. Mulai dari kelembagaan hingga askes pembiayaan.

"Kopi itu tantangannya banyak. Bagaimana kelembagaan usahanya kita perkuat. Bukan lagi usaha-usaha perorangan petani-petani kecil, ini harus kita konsolidasi menjadi lewat koperasi. Sehingga biaya produksinya menjadi lebih efisien tidak lagi seperti sekarang kurang efisien," ujar Masduki dalam dialog Kopi Tanah Air secara daring, Senin (17/1/2022).

Selanjutnya, produktivitas masih stagnan, sehingga perlu ditingkatkan. Kemudian, kualitas tidak konsisten. Maka dari itu kata Teten, metode pengolahan dari hulu sampai Hilir harus ditingkatkan.

Tantangan berikutnya adalah minimnya dukungan R&D, perawatan dan pemupukan. "R&D kita sudah punya Puslitkoka (Pusat Penelitian Kakau dan Kopi) di Jember sejak zaman kolonial, di sana banyak peneliti-peneliti yang hebat dan banyak hasil penelitian yang kita perlu terus dukung pengembangan produksinya," terangnya. 

Teten menyampaikan, bahwasanya saat ini Indonesia sedang menghadapi climate change atau perubahan iklim. Keadaan ini akan berdampak pada supplier kopi terutama kopi arabika. Pasalnya, kopi arabika merupakan tumbuhan yang harus ditanam di dataran tinggi dengan ketinggian di atas 1.000 meter.

"Kalau suhunya makin meningkat akan sulit nanti kita bisa memproduksi kopi arabika karena kopi tersebut tidak cocok ditanam di dataran rendah, mudah terserang dengan karat daun," jelasnya. 

Kendati demikian, Teten bilang, penanaman kopi tersebut akan bersinggungan dengan konservasi atau pelestarian lingkungan. Maka dari itu, penting dilakukan riset oleh para peneliti agar Indonesia mampu melakukan pengembangan kopi arabica.

"Misalnya di daerah dataran rendah, seperti kopi robusta, kopi ekselsa, kopi liberika, kopi-kopi yang tipe dataran rendah harus terus diriset juga sehingga mencapi tingkat produktivitasnya. Kalau tidak, kita akan mengalami penurunan produksi," urainya.

Terakhir, akses pembiayaan. Teten menyebut bahwa Presiden Joko Widodo sudah menetapkan 30% kredit perbankan harus untuk UMKM. 

Maka dari itu, sekarang tiap tahun KUR dinaikkan. Pada 2020, KUR 190 triliun, kemudian pada 2021, KUR 285 triliun. Sementara tahun ini yakni 2020 mencapai 373 triliun. Ini akan terus ditingkatkan sampai porsi kredit  perbankan itu 30%.

"Tapi jangan dulu bangga, karena di depan kita ada Korea Selatan di mana 81% kredit perbankan itu untuk UMKM yang besar itu di mencari pembiayaannya di pasar modal. Kita juga masih kalah dengan Malaysia dan Thailand yang sudah di atas 40%. Sedangkan Indoneia saat ini baru 19,8%," tandanya. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD