AALI
12300
ABBA
183
ABDA
0
ABMM
3210
ACES
1005
ACST
164
ACST-R
0
ADES
4810
ADHI
680
ADMF
8150
ADMG
166
ADRO
3120
AGAR
350
AGII
1925
AGRO
960
AGRO-R
0
AGRS
118
AHAP
62
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
162
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
930
AKRA
1050
AKSI
232
ALDO
930
ALKA
300
ALMI
274
ALTO
190
Market Watch
Last updated : 2022/05/19 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
540.22
-0.53%
-2.88
IHSG
6830.60
0.55%
+37.19
LQ45
1009.96
-0.59%
-6.04
HSI
20082.33
-2.72%
-561.95
N225
26349.61
-2.09%
-561.59
NYSE
15044.52
-3.2%
-497.38
Kurs
HKD/IDR 1,874
USD/IDR 14,725
Emas
858,911 / gram

Tidak Hanya untuk Pembangkit Listrik, Ini Manfaat Panas Bumi

ECONOMICS
Oktiani Endarwati
Kamis, 05 Agustus 2021 20:42 WIB
Energi panas bumi sudah dipakai sejak seratus tahun lalu untuk pembangkit listrik. 29 Negara pun telah memanfaatkan geothermal untuk menghasilkan listrik.
Tidak Hanya untuk Pembangkit Listrik, Ini Manfaat Panas Bumi. (Foto: MNC Media)
Tidak Hanya untuk Pembangkit Listrik, Ini Manfaat Panas Bumi. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Energi panas bumi sudah dipakai sejak seratus tahun lalu untuk pembangkit listrik. Sebanyak 29 negara pun telah memanfaatkan geothermal untuk menghasilkan listrik, di mana terdapat lima negara yang sedang mengembangkannya.

Namun, geothermal juga memiliki berbagai manfaat lain yang tersembunyi. Selain untuk menghasilkan listrik, geothermal juga bisa mengurangi emisi dan mengoptimalkan sumber daya energi natural domestik.

"Geothermal juga ikut berkontribusi dalam pembangunan daerah," papar Manager Government & Public Relation Pertamina Geothermal Energy (PGE), Sentot Yulianugroho, dalam keterangan tertulis, Kamis (4/8/2021).

Sentot menjelaskan, keberadaan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) berperan mengurangi emisi gas buang karbon dioksida (CO2). Berdasarkan perhitungan versi Carbon Neutral Calculator, pengurangan gas rumah kaca bahkan telah mencapai 14,91 juta ton CO2 per tahun. Jumlah itu didapatkan berdasarkan kapasitas PLTP di Indonesia sebesar 2.130,6 Megawatt. 

"PGE yang sudah mengoperasikan pembangkit listrik geothermal sejak hampir lima dekade lalu sudah turut mengurangi berjuta-juta ton gas CO2," kata Sentot.

Saat ini dengan kapasitas 672 MW, PGE sebagai bagian dari Sub Holding Pertamina PNRE telah berpartisipasi mengurangi 3,6 juta ton CO2 per tahun.

Hingga saat ini, PGE setidaknya mengelola tujuh proyek dalam kerangka Clean Development Mechanism (CDM), enam di antaranya terdaftar di United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC).

Terkait dengan optimasi sumber daya domestik, lanjut Sentot, keberadaan PGE dari sisi ekonomi makro telah berkontribusi terhadap penghematan devisa. Sejak tahun 1997, Indonesia harus mengimpor minyak karena produksi dalam negeri tidak cukup memenuhi konsumsi yang terus meningkat. "Beroperasinya PLTP secara tidak langsung berkontribusi terhadap penghematan cadangan devisa migas," katanya.

Sentot menjelaskan, dengan kapasitas nasional PLTP Indonesia sebesar 2.130,6 Megawatt, berarti setara dengan 100,778 Barrel Oil Equivalent Per Day (BOEPD) yang jika digenapkan satu tahun menjadi 36,78 juta Barrel Oil Equivalent. Jika diasumsikan harga satu barel minyak USD50, devisa yang bisa dihemat selama setahun dari keberadaan PLTP sebesar USD1,84 miliar. 

"Dengan perhitungan yang sama, PGE dengan 672 MW nya memberikan kontribusi penghematan devisa USD580 juta per tahun," jelas Sentot.

Menurut Sentot, keberadaan geothermal juga berkontribusi terhadap pajak dan pendapatan negara bukan pajak (PNBP). PGE berkontribusi memberikan 34% dari pendapatan bersihnya (nett operating income) setiap tahun kepada negara. Pemasukan untuk di antaranya, PPh karyawan, bea masuk dan pungutan lain atas cukai dan impor, serta pajak daerah dan retribusi daerah. 

Untuk PNBP, diperoleh dari all inclusive yang dipatok 34%, dan khusus untuk daerah penghasil, PGE dan pengembang panas bumi yang sudah berproduksi juga membagikan bonus produksi sebesar 1% dari penjualan uap atau 0,5% penjualan listrik, yang disetor langsung ke kas daerah.

Kehadiran PLTP juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal lewat partisipasinya dalam pembangunan daerah. Kontribusi paling utama adalah pembangunan infrastruktur. 

"Dengan lokasi yang selalu berada di remote area, perusahaan harus membangun infrastruktur jalan untuk memperlancar transportasi logistik. Jalan yang tadinya hanya berupa tanah, bahkan hanya jalan setapak, diperlebar dan diaspal. Bahkan jika tanahnya labil, dilakukan pembetonan," jelas Sentot. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD