AALI
9725
ABBA
224
ABDA
0
ABMM
780
ACES
1480
ACST
280
ACST-R
0
ADES
1665
ADHI
1165
ADMF
8075
ADMG
167
ADRO
1185
AGAR
428
AGII
1095
AGRO
910
AGRO-R
0
AGRS
570
AHAP
71
AIMS
494
AIMS-W
0
AISA
274
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
585
AKRA
3240
AKSI
785
ALDO
870
ALKA
242
ALMI
236
ALTO
318
Market Watch
Last updated : 2021/05/07 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
468.07
-0.98%
-4.61
IHSG
5928.31
-0.7%
-41.93
LQ45
880.72
-0.93%
-8.22
HSI
28610.65
-0.09%
-26.81
N225
29357.82
0.09%
+26.45
NYSE
0.00
-100%
-16348.41
Kurs
HKD/IDR 1,838
USD/IDR 14,290
Emas
835,733 / gram

Utang BUMN Tembus Rp2.000 Triliun, Ekonom: Konsekuensi Pandemi

ECONOMICS
Shelma Rachmahyanti/Sindo
Rabu, 24 Maret 2021 21:38 WIB
Utang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.
Utang BUMN Tembus Rp2.000 Triliun, Ekonom: Konsekuensi Pandemi (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Utang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Hal tersebut terjadi seiring dengan keinginan pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi dengan berbagai proyek pembangunan infrastruktur yang memakan biaya fantastis.

Berdasarkan data Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia per akhir Januari 2021 meningkat dari posisi ULN di Desember 2020. Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi ULN Indonesia pada periode tersebut sebesar 420,7 miliar dolar AS atau lebih tinggi dari posisi Desember 2020 yang tercatat 417,5 miliar dolar AS.

Utang itu terdiri terdiri dari ULN sektor publik atau pemerintah dan bank sentral sebesar 213,6 miliar dolar AS dan ULN sektor swasta, termasuk BUMN sebesar 207,1 miliar dolar.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menegaskan, peningkatan utang adalah konsekuensi karena adanya pandemi.

“Jadi karena di sisi penjualan mengalami penurunan, profit hampir di semua sektor baik swasta maupun BUMN itu turun karena tingkat permintaan mengalami penurunan. Sehingga, keuangan mereka juga terganggu,” tegasnya saat dihubungi MNC Portal Indonesia di Jakarta, Rabu (24/3/2021).

Oleh karena itu, menurut dia, kondisi tersebut kemudian diikuti dengan adanya peningkatan utang. Hal itu terjadi karena belanja operasional masih harus berjalan walau pendapatan menurun.

Lanjutnya, kondisi ini juga terjadi di pemerintah. Di mana saat ini utang pemerintah juga mengalami peningkatan.

“Ini fenomena yang hampir terjadi di semua negara sebagai akibat dari pandemi. Dan ini juga salah satu ciri-ciri resesi. Salah satu ciri-ciri resesi kan dari sisi kinerja keuangan baik pemerintah maupun swasta itu mengalami tekanan dan juga utang biasanya meningkat,” ujar Ekonom CORE tersebut.

Sementara itu, tekanan ekonomi memang berawal dari sektor riil. Pada sektor keuangan juga mengalami tekanan tetapi tekanan tidak seberat yang terjadi di sektor riil.

“Sekarang untuk sektor keuangan lebih baik dibandingkan dengan sektor riil. Sehingga, kalau kita lihat yang BUMN keuangan masih relatif oke terutama BUMN yang besar-besar, Bank Himbara itu. Akan tetapi, yang non keuangan terutama infrastruktur memang yang paling besar tekanannya. Dan saya pikir juga karena pembangunan infrastruktur masih terus digenjot pada saat pandemi,” jelas Faisal. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD