AALI
12225
ABBA
194
ABDA
6250
ABMM
2950
ACES
985
ACST
159
ACST-R
0
ADES
6200
ADHI
715
ADMF
8075
ADMG
181
ADRO
3160
AGAR
332
AGII
2050
AGRO
920
AGRO-R
0
AGRS
124
AHAP
63
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1160
AKRA
1015
AKSI
374
ALDO
945
ALKA
308
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
0%
0.00
IHSG
6883.50
0%
0.00
LQ45
1009.51
0%
0.00
HSI
20697.36
2.89%
+581.16
N225
26781.68
1.44%
+378.84
NYSE
0.00
-100%
-15035.87
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,693 / gram

Mengenal Flexing, Fenomena Pamer Kekayaan yang Tak Akan Dilakukan The Real Sultan

ECOTAINMENT
Shelma Rachmahyanti
Jum'at, 21 Januari 2022 14:31 WIB
Founder Yayasan Rumah Perubahan Prof Rhenald Kasali mengatakan bahwa semakin kaya seseorang, maka akan semakin diam atau tidak memamerkan kekayaan.
Founder Yayasan Rumah Perubahan Prof Rhenald Kasali mengatakan bahwa semakin kaya seseorang, maka akan semakin diam atau tidak memamerkan kekayaan. (Foto: MNC)
Founder Yayasan Rumah Perubahan Prof Rhenald Kasali mengatakan bahwa semakin kaya seseorang, maka akan semakin diam atau tidak memamerkan kekayaan. (Foto: MNC)

IDXChannel –  Founder Yayasan Rumah Perubahan Prof Rhenald Kasali mengatakan bahwa semakin kaya seseorang, maka akan semakin diam atau tidak memamerkan kekayaan. Namun, saat ini banyak orang yang pamer kekayaan.

“Salah satu pepatah yang saya ingat adalah poverty screams, but wealth whispers. Jadi benar sekali bahwa orang-orang yang kaya itu tidak berisik, agak malu membicarakan tentang kekayaan,” kata Prof Rhenald seperti dikutip dari akun Youtube pribadinya, Jumat (21/1/2022).

Prof Rhenald yang juga pakar bisnis menjelaskan, fenomena ini dikenal dengan istilah flexing. Dalam konteks consumer behavior, dikenal teori Conspicuous Consumption. Yakni, pembelian barang atau jasa yang dilakukan untuk menunjukkan kekayaan seseorang.

Menurutnya, jika orang yang benar-benar kaya tidak akan melakukan hal tersebut. Adapun dia akan semakin menjaga privasinya.

“Jadi agak malu membicarakan tentang kekayaan. Kalau orang-orang masih melihat label harga atau mempersoalkan uang, biasanya mereka belum kaya. Jadi orang kaya itu biasanya diam-diam saja lah,” ujarnya.

Bahkan dia mengaku seringkali was-was jika bertemu seseorang di tempat umum seperti di pesawat. Di mana, Prof Rhenald khawatir orang tersebut mungkin salah satu orang terkaya di dunia.

“Kalau saya naik pesawat, saya suka menebak-nebak siapa yang duduk di sebelah saya. Semakin sederhana, semakin saya was-was. Jangan-jangan ini orang terkaya di dunia ini, di sebelah saya,” ucap dia.

Lanjutnya, Flexing dapat dilakukan karena beberapa kebutuhan. Mulai dari agar dilihat mampu, hingga mendapatkan pasangan.

“Pertama, agar dilihat mampu oleh orang lain. Hal ini bisa dalam hal pekerjaan. Kedua, untuk menunjukkan kredibilitas atas suatu kemampuan. Di mana, dalam hal ini yang dipamerkan bukanlah harta kekayaan. Ketiga, untuk mendapatkan pasangan dengan level keuangan ‘sultan’,” jelas Prof Rhenald. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD