AALI
8250
ABBA
214
ABDA
6025
ABMM
3960
ACES
610
ACST
176
ACST-R
0
ADES
7175
ADHI
715
ADMF
8300
ADMG
167
ADRO
3960
AGAR
292
AGII
2350
AGRO
550
AGRO-R
0
AGRS
90
AHAP
85
AIMS
242
AIMS-W
0
AISA
164
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1635
AKRA
1350
AKSI
316
ALDO
655
ALKA
290
ALMI
392
ALTO
181
Market Watch
Last updated : 2022/09/30 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
534.58
0.21%
+1.10
IHSG
7040.80
0.07%
+4.60
LQ45
1011.48
0.24%
+2.44
HSI
17222.83
0.33%
+56.96
N225
25937.21
-1.84%
-484.84
NYSE
13608.29
-1.63%
-224.91
Kurs
HKD/IDR 1,939
USD/IDR 15,260
Emas
819,860 / gram

Sempat Jadi Cleaning Service, Pria Asal Korsel Ini Jadi Konglomerat Berharta Rp29 Triliun

INSPIRATOR
Kunthi Fahmar Sandy
Kamis, 08 September 2022 20:40 WIB
Perusahaan melaporkan pendapatan kuartal pertama tahun ini naik 19 persen dari tahun ke tahun menjadi 100,5 miliar won (80 juta dolar AS)
Sempat Jadi Cleaning Service, Pria Asal Korsel Ini Jadi Konglomerat Berharta Rp29 Triliun (FOTO:MNC Media)
Sempat Jadi Cleaning Service, Pria Asal Korsel Ini Jadi Konglomerat Berharta Rp29 Triliun (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Nasib seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri. Jika kerja keras dan usaha yang dilakukan berjalan maksimal, maka kesuksesan akan berjalan mengikuti. 

Seperti kisah seorang pria di Korea Selatan bernama Lee Su Jin. Dulunya, dia bekerja sebagai cleaning service, namun kini menjadi miliarder berkat bisnis yang ia tekuni. 

Kisahnya berawal saat Le Su-jin hidup dalam kemiskinan sejak kecil. Dia tinggal dari satu kerabat ke kerabat lain untuk bisa bisa bertahan hidup. 

Ketika usianya 23 tahun, dia memutuskan untuk bekerja sebagai janitor di sebuah love hotel, sebuah penginapan yang bisa di sewa per jam.

"Hari demi hari, saya merasa sengsara tetapi bertahan," ujar Lee Su-jin, seperti dilaporkan Bloomberg News, dikutip Selasa (7/6/2022). 

"Rasanya seperti mimpi sekarang," lanjut dia. Dengan uang yang diperolehnya sebagai petugas kebersihan, dirinya mulai berinvestasi di saham dan berbisnis salad. Namun sayang, itu semua gagal. 

Meski begitu, kegagalan ini malah menjadi titik balik kehidupannya. Lee Su-jin kembali ke hotel, tetapi bukan untuk bekerja sebagai janitor. 

Dia menggunakan pengetahuannya untuk membangun komunitas perhotelan mulai dari supplier handuk, tisu toilet, hingga pemilik hotel.

Pada 2007, Lee Su-jin meluncurkan aplikasi bernama Yanolja, artinya hey, let's play. Ini adalah aplikasi paling populer untuk memesan love hotel paling populer di Korea Selatan. Di negeri ginseng itu, love hotel disebut motel.

Melansir dari inews.id, rupanya Yanolja telah berkembang dari aplikasi pemesanan hotel hingga transportasi dan kini merambah ke perangkat lunak komputasi cloud yang membantu hotel dan perusahaan perjalanan mendigitalkan proses bisnis. 

Perusahaan melaporkan pendapatan kuartal pertama tahun ini naik 19 persen dari tahun ke tahun menjadi 100,5 miliar won (USD80 juta), sementara laba bersih sedikit menurun menjadi 8,8 miliar won dari 9 miliar won selama periode yang sama. 

Media lokal melaporkan pada bulan April bahwa Yanolja berencana untuk terdaftar di Nasdaq pada kuartal ketiga 2022. Selain SoftBank, terdapat beberapa investor lain Yanolja, seperti dana investasi Singapura, GIC; raksasa travel online, Booking.com; dan perusahaan ekuitas swasta Korea Selatan, SkyLake Investment. 

Forbes menghitung, Yanolja memiliki valuasi sekitar USD6,7 miliar pada Juli 2021. Pemegang saham terbesar adalah SoftBank Vision Fund 2 dengan 35,3% saham. Adapun Lee Su-jin memegang 16,54% saham, istrinya dan kedua putrinya memegang masing-masing 5,18%. Diperkirakan kekayaan keluarga mereka mencapai USS2 miliar atau setara Rp 29 triliun (asumsi Rp 14.500 per dolar).

(Penulis Ridho H magang idxchannel.com)

(SAN)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD