"Sangat rasional dan bisa dipahami, karena seperti kita tahu, kami baru saja sukses turnaround (pembalikan arah) dari sebelumnya masih rugi, kini telah berhasil membukukan keuntungan," ujar Djoko, dalam keterangan resminya, Jumat (8/5/2026).
Hasil kinerja tersebut, menurut Djoko, bisa diklaim sebagai satu capaian yang sangat impresif dan di luar perkiraan pasar. Sehingga, wajar bila kemudian shareholder merasa puas dan kemudian memilih hold (mempertahankan kepemilikan), karena prospek bisnis PADI ke depan diyakini cukup menjanjikan.
Berdasarkan laporan keuangan tahunan terbarunya, PADI memang tercatat berhasil membalikkan posisi dari posisi 2024 lalu masih menanggung rugi bersih Rp13,79 miliar, lalu pada 2025 lalu sukses meraup laba bersih sebesar Rp1,81 miliar.
"Rentang pemulihan (bottom line) ini mencatatkan lonjakan yang meroket hingga lebih dari 113 persen. Perbaikan fundamental yang drastis ini mengindikasikan bahwa mesin operasional PADI telah kembali efisien dan perseroan tak lagi sekadar 'cangkang' sekuritas saja, melainkan aset finansial yang sangat bernilai dan berkinerja positif," ujar Djoko.
Di lain pihak, masih betahnya Happy Hapsoro untuk bertahan sebagai pemegang saham PADI ini, oleh sebagian pelaku pasar dikaitkan dengan rencana Perseroan yang bakal melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD), atau rights issue, dengan nilai penerbitan saham baru diperkirakan mencapai Rp113,07 miliar.
Dengan telah mengurangi porsi kepemilikan sahamnya dalam sejumlah kesempatan pada beberapa waktu lalu, namun kemudian masih tetap menyisakan porsi di bawah lima persen, dinilai sebagai sinyal kesiapan Happy Hapsoro untuk tampil sebagai pembeli siaga (standby buyer) atas rights issue yang bakal diterbitkan.