Atas berbagai faktor tersebut, Sucor memangkas proyeksi laba seluruh emiten batu bara dalam cakupannya. Penurunan estimasi didasarkan pada meningkatnya risiko kepatuhan akibat DSI, potensi kenaikan royalti, serta lingkungan suku bunga yang lebih tinggi.
Meski demikian, Sucor masih melihat peluang jangka pendek bagi emiten batu bara apabila harga batu bara tetap tinggi. Perusahaan yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS juga diperkirakan mendapat tambahan dukungan dari pelemahan nilai tukar rupiah.
Di tengah tantangan tersebut, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) tetap menjadi pilihan utama Sucor. Selain memiliki struktur biaya produksi yang rendah dan neraca dengan posisi kas bersih, rencana divestasi aset Kestrel diperkirakan menghasilkan dana sekitar USD890 juta.
Menurut Yoga, transaksi tersebut membuka peluang pembagian dividen spesial dengan imbal hasil lebih dari 20 persen, ditambah potensi dividen final sekitar 10 persen pada 2026.
Kombinasi itu membuat AADI dinilai masih menawarkan prospek imbal hasil yang menarik meski sektor batu bara secara keseluruhan masih menghadapi berbagai tantangan. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.