IDXChannel - Goldman Sachs dan Macquarie pada Selasa menaikkan proyeksi rata-rata harga nikel 2026, seiring pengetatan pasokan bijih dari Indonesia setelah muncul sinyal bahwa pemerintah berencana membatasi produksi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memicu rebound harga nikel pada pertengahan Desember dengan menyatakan komitmen untuk memangkas produksi.
Indonesia tahun ini akan menurunkan kuota izin pertambangan tahunan menjadi 250 juta hingga 260 juta ton basah bijih, dari 379 juta ton pada 2025. Hal tersebut dikonfirmasi seorang pejabat Kementerian ESDM pada 14 Januari.
Indonesia merupakan produsen nikel terbesar dunia, logam utama untuk bahan baku baterai.
Mengutip dari Reuters, Rabu (4/2/2026), Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga nikel 2026 menjadi rata-rata USD17.200 per ton, dari sebelumnya USD14.800, dengan alasan penurunan pasokan bijih Indonesia menjadi 260 juta ton metrik.