IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) melemah lebih dari 2 persen pada Kamis (21/5/2026), melanjutkan penurunan untuk hari kedua berturut-turut, seiring lemahnya permintaan ekspor dan turunnya harga minyak kedelai yang menekan pasar.
Kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives Exchange merosot 2,27 persen menjadi 4.479 ringgit Malaysia per ton pada pukul 16.07 WIB.
Lembaga survei kargo memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1-20 Mei turun antara 13,9 persen hingga 20,5 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
“Pasar bergerak melemah di tengah kekhawatiran atas lemahnya permintaan ekspor yang dipadukan dengan pelemahan minyak kedelai,” kata proprietary trader di perusahaan perdagangan Iceberg X Sdn Bhd yang berbasis di Kuala Lumpur, David Ng, seperti dikutip Reuters.
Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 0,61 persen, sementara kontrak minyak sawitnya melemah 1 persen. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga turun 0,43 persen.
Minyak sawit cenderung mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaing karena bersaing di pasar minyak nabati global.
Harga minyak mentah naik tipis, memangkas sebagian penurunan sebelumnya, seiring investor memantau pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sementara ketatnya pasokan dan penurunan persediaan minyak AS memberikan dukungan.
Harga minyak mentah yang lebih kuat membuat minyak sawit menjadi pilihan yang lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Ringgit Malaysia, mata uang perdagangan minyak sawit, menguat 0,05 persen terhadap dolar, membuat komoditas tersebut sedikit lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang asing. (Aldo Fernando)