Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 5 persen.
Kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi dan mendorong bank sentral menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan harga.
Meski emas kerap dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil ini cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga berada di level tinggi.
Di sisi lain, risalah rapat Federal Reserve (The Fed) pada bulan lalu menunjukkan para pejabat semakin khawatir inflasi tetap tinggi dan tekanan harga mulai meluas sehingga mungkin memerlukan kenaikan suku bunga.
Beberapa peserta rapat The Fed pada 16-17 Juni bahkan menilai terdapat alasan untuk segera menaikkan suku bunga, sebagaimana tercantum dalam risalah yang dirilis pada Rabu.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada September sebesar sekitar 69 persen, meningkat dari 62 persen sehari sebelumnya.