AALI
9675
ABBA
290
ABDA
6325
ABMM
1385
ACES
1345
ACST
190
ACST-R
0
ADES
3570
ADHI
825
ADMF
7550
ADMG
193
ADRO
2220
AGAR
362
AGII
1445
AGRO
1445
AGRO-R
0
AGRS
172
AHAP
70
AIMS
398
AIMS-W
0
AISA
174
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1120
AKRA
810
AKSI
690
ALDO
1350
ALKA
334
ALMI
290
ALTO
248
Market Watch
Last updated : 2022/01/18 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
505.56
-0.34%
-1.74
IHSG
6614.06
-0.47%
-30.99
LQ45
944.82
-0.34%
-3.20
HSI
24112.78
-0.44%
-105.25
N225
28257.25
-0.27%
-76.27
NYSE
17219.06
-0.23%
-39.94
Kurs
HKD/IDR 1,837
USD/IDR 14,330
Emas
836,902 / gram

Harga Minyak Dunia Tembus USD80 per Barel, Ini Faktor Pemicunya 

MARKET NEWS
Dinar Fitra Maghiszha
Selasa, 09 November 2021 14:55 WIB
Berikut pemicu harga minyak mentah dunia tembus lebih USD80 per barel.
Harga Minyak Dunia Tembus USD80 per Barel, Ini Faktor Pemicunya  (Dok.MNC Media)
Harga Minyak Dunia Tembus USD80 per Barel, Ini Faktor Pemicunya  (Dok.MNC Media)

IDXChannel - Harga minyak mentah dunia kembali melanjutkan relinya pada perdagangan Selasa (9/11/2021) yang dipicu oleh tiga faktor utama seperti pengesahan RUU Infrastruktur AS, angka ekspor di China, dan pemulihan ekonomi global pasca-pandemi.

Hal ini mengangkat prospek permintaan bahan bakar menjadi lebih kuat.

Namun aksi profit taking masih membayangi pergerakan harga minyak pada siang hari ini, meskipun harganya masih betah di atas USD80an.

Hingga pukul 11:30 WIB, minyak mentah Brent tertekan (-0,11%) di harga USD83,34 per barel, setelah sempat naik 0,8% pada Senin lalu. Sementara WTI juga tergelincir (-0,06%) di USD81,88 per barel.

RUU infrastruktur senilai USD$ 1 triliun dari Presiden AS Joe Biden yang telah lama tertunda akhirnya mendapat pengesahan di Kongres AS. Selain itu data ekspor China yang lebih baik dari perkiraan menjadi  suntikan positif bagi pemulihan ekonomi global yang lebih luas.

"Data konsumsi menunjukkan lebih banyak pertumbuhan, sembari menunggu momentum atas permintaan bahan bakar yang juga meningkat," kata Analis Komoditas JPMorgan Chase (NYSE:JPM) dalam sebuah catatan, dilansir Reuters, Selasa (9/11).

Sementara itu, bank Amerika Serikat mencatat permintaan global untuk komoditas minyak mentah pada bulan November mengalami kenaikan yang cukup fantastis, hampir kembali ke tingkatan sebelum pandemi, yakni sejumlah 100 juta barel per hari (bph).

Tetapi, beberapa produsen utama minyak lebih memilih untuk tetap disiplin dalam mempertahankan pasokannya pada Oktober, sehingga membuat harga minyak naik ke level tertingginya.

Sebagai konsumen minyak terbesar di dunia, Amerika Serikat di bawah pimpinan Joe Biden dapat mengambil langkah-langkah pada awal pekan ini untuk mengatasi kenaikan harga bahan bakar.

"Joe Biden tentu bisa memilih opsi yang dia miliki untuk mengatasi lonjakan biaya bahan bakar di pom pengisian, karena pasokannya ini adalah di pasar global," kata Sekretaris Biro Energi AS, Jennifer Granholm kepada MSNBC dalam sebuah wawancara, dilansir Reuters, Selasa (9/11/2021).

Meskipun pasokan minyak di tingkat global lebih ketat, namun persediaan minyak mentah AS diperkirakan telah meningkat selama tiga pekan berturut-turut. Hal ini mungkin dapat membantu meredam kenaikan harga lebih lanjut.

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD