AALI
9650
ABBA
226
ABDA
0
ABMM
2370
ACES
790
ACST
168
ACST-R
0
ADES
7275
ADHI
820
ADMF
8075
ADMG
176
ADRO
2950
AGAR
324
AGII
2090
AGRO
725
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
57
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1535
AKRA
1055
AKSI
294
ALDO
835
ALKA
298
ALMI
292
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/06/28 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
537.61
-0.34%
-1.85
IHSG
6996.46
-0.28%
-19.60
LQ45
1007.64
-0.31%
-3.10
HSI
22418.97
0.85%
+189.45
N225
27049.47
0.66%
+178.20
NYSE
0.00
-100%
-14811.55
Kurs
HKD/IDR 1,888
USD/IDR 14,835
Emas
871,303 / gram

Harga Minyak Mentah Dunia Balik Ambles Usai Tembus Level Tertinggi

MARKET NEWS
Dinar Fitra Maghiszha
Kamis, 20 Januari 2022 10:50 WIB
Harga minyak mentah malah ambles tidak lama setelah menembus level tertingginya sejak 2014 di sesi sebelumnya.
Harga Minyak Mentah Dunia Balik Ambles Usai Tembus Level Tertinggi. (Foto: MNC Media)
Harga Minyak Mentah Dunia Balik Ambles Usai Tembus Level Tertinggi. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Harga minyak mentah malah ambles tidak lama setelah menembus level tertingginya sejak 2014 di sesi sebelumnya. Kondisi ini terjadi akibat permintaan yang kuat dan sejumlah gangguan di tingkat produsen.

Pada perdagangan Kamis (20/1/2022) hingga pukul 10:25 WIB, harga minyak mentah berjangka Brent turun -0,28%, menjadi USD88,19 per barel, setelah sempat melejit hingga USD89,13 per barel. Sedangkan minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS terpuruk -0,19%, menjadi USD85,64 per barel.

Analis ANZ mengemukakan bahwa Biro Energi Internasional meyakini permintaan minyak di tingkat global akan meningkat hingga masa sebelum pandemi. Adapun sejumlah insiden di Timur Tengah yang belakangan ini terjadi turut menjadi perhatian pasar komoditas.

"Gangguan persediaan untuk short-term juga membantu memperketat pasar. Minyak mentah Brent menguat tajam setelah laporan adanya pemutusan pipa minyak utama yang mengalir dari Irak ke Turki akibat ledakan." tulisnya dalam sebuah catatan, dilansir Reuters, Kamis (20/1/2022).

Kekhawatiran atas persediaan telah meningkat pekan ini, setelah kelompok Houthi di Yaman menyerang Uni Emirat Arab, produsen terbesar ketiga di Organisasi Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC).

Di tempat yang berbeda, Rusia, produsen minyak terbesar kedua di dunia, mengirimkan pasukan dengan jumlah besar di dekat perbatasan Ukraina, yang memicu kekhawatiran invasi dan ketidakpastian pasokan berikutnya.

Pemulihan ekonomi dunia dari virus corona masih menjadi harapan bagi harga minyak dan permintaan bahan bakar. Sebelumnya pejabat OPEC mengatakan bahwa reli minyak dapat berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, dan harganya bisa mencapai USD100 per barel, menyusul pelonggaran di sejumlah negara.

Para produsen yang tergabung dalam OPEC+ saat ini sedang berjuang untuk mencapai target peningkatan produksi bulanan sebesar 400.000 barel per hari (bph). (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD