IDXChannel - Harga nikel melanjutkan penguatan pada Rabu (20/5/20260 setelah Indonesia menyatakan akan menempatkan ekspor komoditas strategis di bawah kontrol terpusat pemerintah, memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi pengetatan pasokan dari produsen terbesar bahan baku stainless steel tersebut.
Kontrak nikel tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,66 persen menjadi USD18.930 per ton pada pukul 14.22 WIB.
Sementara itu, kontrak nikel paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) meningkat 1,88 persen dan ditutup di level 145.390 yuan.
Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengatakan pemerintah akan menerbitkan regulasi untuk memperkuat pengawasan ekspor komoditas.
Dalam kebijakan tersebut, komoditas strategis seperti minyak sawit, batu bara, dan ferroalloy akan dijual melalui badan usaha yang dijalankan pemerintah.
Menurut catatan Reuters, langkah tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan ekspor produk nikel olahan Indonesia, termasuk nickel pig iron (NPI) dan feronikel, yang merupakan bahan baku utama produksi stainless steel.
Kekhawatiran terhadap pasokan nikel sebenarnya telah muncul sejak awal tahun akibat serangkaian perubahan kebijakan di Indonesia, termasuk pemangkasan kuota tambang bijih nikel serta rencana perubahan pajak dan royalti.
Selain itu, Tsingshan Group China juga meminta produsen NPI di kawasan industri Weda Bay mengurangi produksi guna mengalihkan pasokan listrik untuk produksi aluminium. Langkah ini turut menopang kenaikan harga nikel.
Di antara logam LME lainnya, tembaga naik 0,53 persen menjadi USD13.482,50 per ton setelah sempat menyentuh level terendah lebih dari sepekan di USD13.350.
Aluminium naik 0,19 persen, seng menguat 0,81 persen, timbal bertambah 0,20 persen, dan timah melonjak 3,26 persen.
Sementara di SHFE, harga tembaga ditutup turun 0,44 persen. Aluminium naik 0,31 persen, seng menguat 0,57 persen, timbal bertambah 0,36 persen, dan timah melonjak 2,05 persen. (Aldo Fernando)