Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menegaskan telah melakukan intervensi di pasar dan siap mengerahkan instrumen tambahan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Otoritas moneter menilai pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipicu faktor global, terutama penguatan dolar AS dan ketidakpastian geopolitik.
Senada, pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan pada rupiah masih didominasi faktor global meskipun ketegangan antara AS dengan Iran mulai mereda seiring gencatan sejata dua minggu. Namun, terjadi pelanggaran gencatan senjata terkait serangan Israel ke Lebanon.
Lalu lintas kapal melalui selat Hormuz masih berada jauh di bawah 10 persen dari volume normal pada Kamis, meskipun ada gencatan senjata.
"Iran dan AS sepakat pada Selasa untuk gencatan senjata dua minggu yang dimediasi oleh Pakistan, tetapi pertempuran masih terjadi setelah pengumuman tersebut," kata Ibrahim dalam risetnya, Jumat (10/4/2026).
Para analis mengatakan Pakistan akan mencoba mendorong kesepakatan perdamaian yang lebih langgeng. Namun, dibutuhkan pengaruh yang lebih besar untuk memaksa pembukaan kembali jalur perairan strategis tersebut. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.