Dengan ini, IHSG sudah turun tajam 20,18 persen dari rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) 9.174,47 pada perdagangan intraday 20 Januari 2026.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menjelaskan bahwa koreksi pasar yang terjadi saat ini bukan hanya dialami Indonesia, melainkan merupakan fenomena global yang mencerminkan tekanan luas di pasar keuangan.
“Kita melihat koreksi ini terjadi secara global, bahkan KOSPI negara yang digadang-gadang akan masuk ke developed market (DM) mengalami penghentian perdagangan (trading halt) hingga 2 kali,” kata Michael, Senin (9/3/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan tekanan yang meluas di berbagai pasar. “Ini artinya stress test terjadi di seluruh indeks negeri, baik DM maupun emerging markets (EM),” imbuh dia.
Dalam situasi seperti ini, Michael menilai investor sebaiknya tidak terburu-buru mengambil keputusan. Ia menekankan pentingnya menjaga disiplin dan tidak terfokus pada kedalaman koreksi pasar.