Menurut Hasan, skema ini bisa menciptakan harga yang lebih wajar, terutama bagi saham-saham yang memiliki likuiditas minim. Sebaliknya, apabila saham-saham tersebut diperdagangkan secara reguler, keseimbangan antara volume penawaran dan permintaan seringkali gagal tercipta dengan baik.
"Kalau dilakukan continuous (option) tentu tidak tercipta tuh kekuatan beli dan jual yang cukup, karena ada penundaan untuk proses melakukan penjumpaan atau matching-nya secara periodik," ujarnya.
Kendati demikian, Hasan menegaskan OJK siap mengevaluasi kebijakan tersebut ke depan jika sering terjadi spekulasi pada saham-saham FCA. OJK siap meminta masukan dari sejumlah pihak, termasuk agar kebijakan FCA lebih sempurna.
"Kalau masih ada sesuatu yang masih diperlukan, tentu kami terbuka dan akan memantau dan memonitor termasuk masukan yang sangat baik yang kami terima dari parlemen," tuturnya.
Sebelumnya, kebijakan FCA menjadi sasaran kritik Ketua Komisi XI DPR, M. Misbakhun. Dia menilai, kebijakan tersebut justru memunculkan spekulasi baru.