Tak hanya sukses dalam bisnis, Prajogo juga dikenal sebagai taipan yang merespons ajakan Presiden Soeharto untuk mendonasikan sebagian sahamnya ke koperasi.
Pada 1996, berkat berbagai langkah cerdas dan ekspansi agresif, ia sudah menempatkan dirinya sebagai salah satu dari sepuluh orang terkaya di Indonesia dengan total aset mencapai USD2,2 miliar, sebuah pencapaian yang mengukuhkan statusnya di jajaran elite bisnis nasional.
Namun, krisis keuangan 1997-1998 menjadi ujian berat. Bisnisnya goyah akibat jeratan utang luar negeri. Bank Andromeda pun dilikuidasi pada 1997, dan perusahaan-perusahaan miliknya harus menjalani restrukturisasi utang secara besar-besaran.
Akan tetapi, Prajogo tak menyerah. Pada 2007, ia berhasil mengakuisisi mayoritas saham PT Chandra Asri dan PT Tri Polyta pada 2008. Keduanya kemudian melebur menjadi Chandra Asri Petrochemical, kini dikenal sebagai Chandra Asri Pacific (TPIA), pada 2010.
Kini, Prajogo Pangestu telah menjelma menjadi salah satu pemain utama di sektor petrokimia, batu bara, energi terbarukan, hingga properti.