sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Ketidakpastian Geopolitik Masih Tinggi, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.127 per USD

Market news editor Nia Deviyana
14/04/2026 16:06 WIB
Rupiah masih belum mampu terangkat di tengah ketidakpastian dialog AS-Iran untuk mengakhiri perang.
Ketidakpastian Geopolitik Masih Tinggi, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.127 per USD. Foto: iNews Media Group.
Ketidakpastian Geopolitik Masih Tinggi, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.127 per USD. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa (14/4/2026), turun 22 poin atau sekitar 0,13 persen ke level Rp17.127 per USD.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan rupiah masih belum mampu terangkat di tengah ketidakpastian dialog AS-Iran untuk mengakhiri perang.

"Militer AS mengatakan pada Senin bahwa blokade mereka terhadap Selat Hormuz akan meluas ke timur hingga Teluk Oman dan Laut Arab, sementara data pelacakan kapal menunjukkan dua kapal berbalik arah di selat tersebut saat blokade mulai berlaku," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Sebagai tanggapan, Iran mengancam akan menargetkan pelabuhan di negara-negara yang berbatasan dengan Teluk setelah runtuhnya pembicaraan akhir pekan di Islamabad yang bertujuan untuk menyelesaikan krisis tersebut.

Sumber yang mengetahui negosiasi tersebut mengatakan dialog antara Iran dan AS masih berlangsung. Hal tersebut juga diungkapkan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. 

Sekutu NATO, termasuk Inggris dan Prancis, menahan diri untuk tidak bergabung dalam blokade tersebut, dan menganjurkan pembukaan kembali Selat Hormuz. Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan bahwa harga minyak masih dapat mencapai puncaknya dalam beberapa minggu ke depan meski pengiriman kembali normal melalui Selat Hormuz.

Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, dan Badan Energi Internasional mendesak negara-negara untuk menghindari penimbunan pasokan energi atau memberlakukan pembatasan ekspor. 

Dari sentimen domestik, meningkatnya ketidakpastian global membuat dunia usaha dalam fase wait and see, terutama akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan mandeknya negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Penurunan ekspektasi kegiatan bisnis dan stagnasi penjualan mencerminkan kehati-hatian pelaku usaha dalam mengambil keputusan ekspansi. Meski demikian, ekspansi bisnis dinilai tidak berhenti, tetapi mengalami penyesuaian strategi.

Pelaku usaha cenderung menahan ekspansi besar yang bersifat padat modal, sambil fokus pada efisiensi dan optimalisasi operasional. Investasi juga mulai dialihkan ke sektor yang dinilai lebih resilien, seperti pangan, energi, dan digital.

Sejumlah faktor yang memengaruhi keputusan ekspansi, antara lain ketidakpastian geopolitik global, volatilitas harga energi dan logistik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, melemahnya permintaan global, serta biaya pembiayaan yang relatif tinggi. Kondisi tersebut berdampak pada perhitungan risiko dan imbal hasil investasi.

Dari sisi penjualan, kinerja masih cenderung stagnan dalam jangka pendek, namun berpotensi membaik pada semester II-2026 apabila tidak terjadi eskalasi lanjutan konflik global. Konsumsi domestik dinilai tetap menjadi penopang utama, meski daya beli masyarakat perlu dijaga.

Untuk mendorong ekspansi, diperlukan kepastian dan stabilitas kebijakan, termasuk kebijakan yang konsisten, insentif fiskal, kemudahan investasi, serta menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi. 

Selain itu, percepatan belanja pemerintah dan deregulasi di sektor riil seperti logistik dan perizinan dinilai penting untuk memperkuat daya saing.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.120-Rp17.170 per USD.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement