Dari sisi penjualan, kinerja masih cenderung stagnan dalam jangka pendek, namun berpotensi membaik pada semester II-2026 apabila tidak terjadi eskalasi lanjutan konflik global. Konsumsi domestik dinilai tetap menjadi penopang utama, meski daya beli masyarakat perlu dijaga.
Untuk mendorong ekspansi, diperlukan kepastian dan stabilitas kebijakan, termasuk kebijakan yang konsisten, insentif fiskal, kemudahan investasi, serta menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.
Selain itu, percepatan belanja pemerintah dan deregulasi di sektor riil seperti logistik dan perizinan dinilai penting untuk memperkuat daya saing.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.120-Rp17.170 per USD.
(NIA DEVIYANA)