“Seperti yang kita ketahui, kebanyakan passive fund menggunakan metode indeks dalam berinvestasi,” kata Michael.
Dalam konteks ini, saham-saham konglomerat dinilai berada di posisi yang menguntungkan. Pasalnya, emiten-emiten tersebut umumnya memenuhi persyaratan kapitalisasi pasar minimum untuk masuk ke dalam konstituen indeks global.
“Hal ini menjadi sorotan terhadap saham-saham konglomerat yang rata-rata memiliki requirement minimal market cap cukup besar untuk bisa masuk ke dalam konstituen indeks, terutama MSCI dan FTSE,” ujarnya.
Dengan latar tersebut, Michael berpandangan tren penguatan saham konglomerasi masih berlanjut pada 2026, meski dengan dinamika yang tidak sepenuhnya sama seperti sebelumnya.
Founder WH Project William Hartanto menilai fenomena saham-saham konglomerat, yang ia juga sebut sebagai new blue chips, berpotensi mencapai fase puncak pada 2026.