Sementara, manajer investasi SGMC Capital, Mohit Mirpuri, menilai, dikutip Reuters, Selasa (21/4), langkah ini sesuai ekspektasi pasar.
“Ini menegaskan pendekatan MSCI yang terukur dan cenderung wait and see, tetap terlibat secara konstruktif dengan reformasi yang ada, namun masih membutuhkan waktu lebih untuk menilai implementasinya,” ujar Mohit.
Ia menambahkan, “Untuk saat ini, pasar masih berada dalam fase holding pattern, dengan Juni menjadi katalis utama berikutnya.”
Sebelumnya, pada Januari lalu, MSCI sempat mengingatkan bahwa Indonesia berisiko turun status dari emerging market menjadi frontier market akibat isu transparansi.
Dampaknya cukup signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot sekitar 12 persen sepanjang tahun berjalan, menjadikannya salah satu pasar dengan kinerja terburuk di Asia. Investor asing pun tercatat melakukan jual bersih sekitar Rp34 triliun.