Dengan asumsi tekanan biaya tetap terbatas dan tidak ada kebijakan tambahan yang merugikan, kenaikan ASP 1 persen berpotensi meningkatkan laba 2026 HMSP sebesar 42,4 persen dan WIIM sebesar 46,3 persen.
Sementara itu, struktur pasar rokok Indonesia terus bergeser.
“Pasar rokok Indonesia kian bergeser dari sekadar mengejar volume penjualan menuju fokus pada komposisi produk dan keterjangkauan harga, seiring konsumen yang semakin sensitif terhadap harga,” kata analis Sucor.
Pada 2025, volume penjualan industri turun 3 persen secara tahunan menjadi 307,8 miliar batang.
Pangsa rokok kretek mesin (SKM) menyusut 110 basis poin, sedangkan segmen kretek tangan (SKT) yang lebih terjangkau justru tumbuh 200 basis poin.
Tren ini menunjukkan konsumen cenderung melakukan downtrading, bukan sepenuhnya meninggalkan rokok, sejalan dengan dampak kenaikan cukai sebelumnya.