Rokok ilegal selama ini menekan profitabilitas industri karena dijual jauh lebih murah akibat menghindari cukai, sehingga menarik konsumen turun ke segmen harga bawah.
Dalam simulasi Sucor, setiap kenaikan 1 persen volume penjualan berpotensi mendongkrak laba 2026 PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) sebesar 8,1 persen dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) hingga 36,1 persen.
Dari sisi kebijakan, Sucor menilai, sektor tembakau juga mendapat ruang bernapas pada 2026. Pemerintah telah mengindikasikan tidak ada kenaikan tarif CHT maupun harga jual eceran minimum (HJE) di 2026.
Jika stabilitas ini dibarengi kenaikan upah minimum provinsi (UMP) di kisaran 5-7 persen, Sucor menilai volume rokok legal bisa lebih terjaga, dengan komposisi penjualan yang lebih menguntungkan.
Sucor juga mencatat sensitivitas laba yang tinggi terhadap kenaikan harga jual rata-rata (ASP).