Ia menambahkan, pasar memasuki awal 2026 dengan proyeksi surplus 2-4 juta barel per hari. Kondisi ini membuat harga WTI tertahan di kisaran rendah hingga menengah USD50 per barel, meskipun tensi geopolitik meningkat.
Dari sisi teknikal, Hyerczyk menilai pasar minyak sudah bersiap menghadapi pergerakan volatil setelah bergerak mendatar pada akhir 2025.
Garis moving average 50 (MA-50) hari menjadi level kunci. Jika ditembus, harga berpotensi menguat lebih jauh. Namun jika gagal bertahan, tekanan jual berisiko kembali membawa harga ke area yang lebih rendah.
Berbeda dengan pasar global, kilang minyak di Pantai Teluk AS menghadapi tantangan tersendiri.
Gangguan pasokan minyak berat Venezuela dapat memperketat segmen pasar tersebut, mengingat banyak kilang AS masih bergantung pada campuran minyak berat impor dengan minyak serpih domestik.