Henan Asset melihat dinamika tersebut sebagai bagian dari proses yang tidak terhindarkan. Reformasi struktural, menurut mereka, hampir selalu diiringi volatilitas jangka pendek, terutama ketika menyangkut perubahan pada struktur kepemilikan dan komposisi indeks.
Pengalaman global menunjukkan pola serupa. Di India, misalnya, peninjauan ulang faktor free float oleh MSCI pada 2023 sempat menekan pasar saham secara signifikan. Namun, setelah investor mencerna bahwa langkah tersebut bertujuan meningkatkan tata kelola, pasar berangsur pulih dan bahkan mencatat penguatan dalam jangka menengah.
Sementara itu, Hong Kong menunjukkan pendekatan yang lebih bertahap melalui penguatan regulasi terkait kepemilikan publik dan transparansi beneficial ownership. Reformasi dilakukan secara konsisten dengan komunikasi yang jelas, sehingga mampu menjaga stabilitas pasar selama masa transisi.
Belajar dari dua pasar tersebut, Henan Asset menilai Indonesia berada di jalur yang tepat. Dengan basis investor domestik yang terus berkembang, mencapai sekitar 23 juta investor ritel, kebutuhan akan pasar yang transparan dan terpercaya menjadi semakin mendesak.
"Transformasi ini adalah bagian dari evolusi pasar yang tidak bisa dihindari. Justru di tengah tekanan jangka pendek, fondasi jangka panjang sedang dibangun," lanjut riset tersebut.