Eskalasi militer yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah menyebabkan gangguan serius pada produksi minyak dunia.
Menurut Ibrahim, produksi minyak di Timur Tengah berkurang hingga 10 juta barel per hari. Kondisi ini diperparah dengan serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak di Rusia yang memicu kelangkaan energi global.
“Geopolitik di Timur Tengah ini pun juga masih rame. Apalagi tentang pembatasan transportasi di Selat Hormuz. Kemudian tentang penyerangan yang ditunda Perang pun juga masih terus terjadi. Bahkan Timur Tengah sendiri sampai saat ini mengalami pengurangan itu 10 juta barel per hari,” tutur dia.
Di tengah volatilitas mata uang, Ibrahim melihat bank Sentral global terus melakukan aksi beli logam mulia sebagai instrumen lindung nilai (hedging). Pelemahan rupiah justru dipandang sebagai penahan koreksi harga emas di dalam negeri.
Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,45 persen secara harian ke Rp16.980 per USD.