Kondisi tersebut dinilai sudah tercermin dalam proyeksi kinerja 2026. Meski demikian, kinerja perusahaan diperkirakan mulai membaik secara signifikan sejak 2027, seiring meredanya beban integrasi.
Ciptadana mencatat, jika biaya integrasi dikecualikan, laba bersih normalisasi pada kuartal III-2025 diperkirakan mencapai Rp1,2 triliun, melonjak 278,4 persen secara kuartalan dan 219,6 persen secara tahunan.
Hal ini mencerminkan fundamental profitabilitas yang kuat dan membuka peluang pertumbuhan laba yang lebih agresif setelah beban integrasi menurun.
Sementara, menurut hemat Ciptadana, risiko yang perlu dicermati investor meliputi pertumbuhan ARPU yang stagnan, pelemahan daya beli konsumen yang berkepanjangan, serta kegagalan perseroan dalam mengoptimalkan sinergi pascamerger. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.