sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Saham Tambang Nikel Melambung, MBMA dan MDKA Pimpin Kenaikan

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
19/02/2026 10:13 WIB
Saham-saham tambang nikel kompak melesat pada perdagangan Kamis (19/2/2026), ditopang prospek positif komoditas acuannya.
Saham Tambang Nikel Melambung, MBMA dan MDKA Pimpin Kenaikan. (Foto: PAM Mineral)
Saham Tambang Nikel Melambung, MBMA dan MDKA Pimpin Kenaikan. (Foto: PAM Mineral)

IDXChannel – Saham-saham tambang nikel kompak melesat pada perdagangan Kamis (19/2/2026), ditopang prospek positif komoditas acuannya.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.01 WIB, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) melesat 8,92 persen ke level Rp855 per unit, dengan volume transaksi mencapai 334,6 juta saham dan nilai transaksi Rp283,7 miliar.

Penguatan juga terjadi pada PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang naik 7,60 persen ke Rp3.540 per unit.

Saham PT Timah Tbk (TINS) turut menguat 3,04 persen ke Rp4.110 per unit.

Lebih lanjut, saham PT PAM Mineral Tbk (NICL) naik 3,93 persen ke Rp1.190 per unit. Sementara itu, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menguat 3,44 persen ke Rp1.505 per unit.

Saham PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) juga terkerek 3,07 persen ke Rp840 per unit.

Kenaikan serupa terjadi pada saham PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) yang menguat 2,72 persen dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang bertambah 2,55 persen.

Sementara itu, kontrak berjangka (futures) nikel menguat 3,6 persen ke USD17.393 per ton pada Rabu (19/2).

Sebelumnya, harga sempat mendekati USD18.000 per ton pekan lalu seiring pemerintah memangkas tajam produksi di PT Weda Bay Nickel, tambang nikel terbesar di dunia yang berlokasi di Indonesia. Langkah tersebut memicu lonjakan harga di tengah ekspektasi pengetatan pasokan.

Namun, sebagian investor mulai meninjau kembali skala dan waktu pembatasan produksi tersebut. Aksi penyesuaian posisi oleh spekulan turut memicu koreksi harga.

Sementara itu, permintaan musiman di China menjelang Tahun Baru Imlek memperlambat aktivitas perdagangan fisik, sehingga semakin membatasi dukungan bagi harga.

Pelaku pasar kini terus mencermati sinyal pasokan selanjutnya.

Sebelumnya, dalam riset yang terbit pada 14 Januari 2026, Bahana Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight pada sektor tambang logam.

Merespons hal tersebut, Bahana menaikkan target harga berbasis valuasi untuk PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), serta merevisi naik target harga berbasis sum of the parts analysis (SOTP) untuk PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan Trimegah Bangun Persada (NCKL).

Kenaikan target harga ini mencerminkan rerating global sektor logam, di mana rata-rata valuasi emiten sejenis di pasar global kini diperdagangkan pada EV/EBITDA untuk tahun fiskal 2026-2027 sebesar 10,7 kali (x)/8,6x, naik dari 8,5x/6,6x pada November 2025.

Bahana menambahkan MDKA sebagai saham pilihan utama dan mempertahankan NCKL, dengan alasan emiten tambang terintegrasi dinilai lebih berpeluang merealisasikan kuota dibandingkan produsen yang bergantung pada penjualan pihak ketiga.

Meski demikian, Bahana menilai keberlanjutan reli harga sangat bergantung pada eksekusi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Komentar terbaru dari Kementerian ESDM mengindikasikan penyesuaian kuota akan mengikuti kebutuhan smelter, yang berpotensi meredam ekspektasi pemangkasan tajam hingga 34 persen secara tahunan.

Namun, potensi kenaikan harga masih terbuka jika pengendalian pasokan diperketat, sebagaimana pernah terjadi pada minyak sawit mentah (CPO) dan timah.

Bahana juga menilai reli harga saham saat ini lebih didorong oleh posisi spekulatif, bukan oleh pengetatan pasokan fisik.

Menurut hemat Bahana, risiko utama tetap berasal dari pelemahan harga nikel, ketidakpastian kebijakan, serta keterlambatan eksekusi proyek. (Aldo Fernando)

 

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement