Komentar tersebut memperburuk sentimen pasar yang sebelumnya telah dibayangi oleh meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah. Militer Iran pada Rabu mengklaim telah menyerang fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain sebagai balasan atas serangan Washington terhadap sejumlah target di Iran serta pencabutan pengecualian sanksi untuk ekspor minyak Iran.
Eskalasi konflik ini mendorong harga minyak mentah melonjak tajam, sehingga kembali memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi berbasis energi dapat mempersulit langkah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Chief Market Analyst CMC Markets Andreas Lipkow mengatakan perkembangan terbaru di Timur Tengah memaksa pelaku pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam valuasi aset.
"Beberapa pekan terakhir investor mulai kembali fokus pada pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan arah kebijakan bank sentral. Namun perkembangan hari ini menjadi pengingat bahwa risiko geopolitik dapat dengan cepat kembali mendominasi perhatian pasar," ujarnya.
Selain perkembangan geopolitik, investor juga menantikan risalah rapat kebijakan Federal Reserve (The Fed) bulan Juni yang dijadwalkan dirilis pada Rabu waktu AS.