sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Ditutup Menguat di Tengah Aksi Jual Obligasi dan Kenaikan Harga Minyak

Market news editor Febrina Ratna Iskana
22/08/2026 07:06 WIB
Wall Street ditutup menguat pada Jumat (21/8/2026), meskipun aksi jual di pasar obligasi kembali meningkat intensitasnya.
Wall Street Ditutup Menguat di Tengah Aksi Jual Obligasi dan Kenaikan Harga Minyak. (Foto: Istimewa)
Wall Street Ditutup Menguat di Tengah Aksi Jual Obligasi dan Kenaikan Harga Minyak. (Foto: Istimewa)

IDXChannel - Wall Street ditutup menguat pada Jumat (21/8/2026), meskipun aksi jual di pasar obligasi kembali meningkat intensitasnya. Sentimen pasar terdorong oleh lonjakan di sektor material, kenaikan harga saham-saham terkait mata uang kripto, serta data positif mengenai aktivitas bisnis di AS.

Namun, saham-saham AS mencatat penurunan mingguan akibat tekanan dari lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah (Treasury) dan kenaikan harga minyak.

Indeks acuan S&P 500 naik 0,4 persen dan berakhir di level 7.674,39 poin, indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi naik 0,4 persen ke posisi 26.180,46 poin, dan indeks saham unggulan (blue-chip) Dow Jones Industrial Average naik 1 persen menjadi 53.276,81 poin.

Secara mingguan, S&P turun 1,4 persen, Nasdaq merosot 2,1 persen, dan Dow turun 0,9 persen.

Dinamika Naik-Turun Pasar Obligasi

Sebagian besar perhatian minggu ini tertuju pada pasar pendapatan tetap (fixed-income). Sebelum Rabu, obligasi Treasury AS berjangka panjang khususnya telah mengalami aksi jual—yang kira-kira dimulai sejak keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) bulan Juli—akibat kekhawatiran inflasi karena naiknya harga minyak dan kekhawatiran mengenai besarnya utang yang diterbitkan perusahaan-perusahaan raksasa untuk mendanai belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Pada Selasa, imbal hasil obligasi tenor 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun di angka 5,337 persen, sementara imbal hasil acuan tenor 10 tahun mencatat rekor tertinggi baru dalam 52 minggu di angka 4,748 persen.

Obligasi dengan tenor lebih pendek mencatatkan kinerja yang jauh lebih baik, terbantu oleh data ekonomi terkini yang mengurangi ekspektasi akan kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Kemudian, pada Rabu, Departemen Keuangan AS mengumumkan akan meningkatkan nilai pembelian kembali (buyback) utang pemerintah berjangka panjang menjadi setidaknya USD4 miliar dari sebelumnya USD2 miliar.

Intervensi tak terduga ini memicu reli pada obligasi jangka panjang yang menyebabkan imbal hasilnya turun. Namun, sebagian besar kenaikan tersebut kembali terhapus pada Kamis dan Jumat, yang mengindikasikan bahwa para pelaku pasar memandang langkah tersebut hanya sebagai solusi jangka pendek. Kekhawatiran fiskal yang dipicu oleh berita bahwa utang AS telah melampaui angka USD40 triliun juga turut membayangi sentimen pasar.

Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun tercatat naik 3,6 basis poin menjadi 5,273 persen, sementara imbal hasil tenor 10 tahun naik 3,5 basis poin menjadi 4,733 persen.

Menteri Keuangan Scott Bessent pada hari Kamis berupaya meredakan kekhawatiran dengan menyatakan kepada CNBC bahwa besaran rencana pembelian kembali (buyback) bisa jadi melebihi angka USD4 miliar yang telah diumumkan, serta menyoroti adanya "perangkat kebijakan yang luas" untuk menurunkan tingkat imbal hasil.

"Meskipun intervensi Bessent sempat menenangkan pasar obligasi, para investor tetap khawatir akan potensi lonjakan inflasi lanjutan akibat konflik dengan Iran serta lintasan utang nasional yang tidak berkelanjutan," ujar CEO Strategy Asset Managers, Tom Hulick, kepada Investing.com.

Kendati demikian, lanjut Hulick, perlu dicatat bahwa negara-negara seperti Jepang telah mempertahankan tingkat utang yang jauh melampaui level AS saat ini selama berpuluh-puluh tahun. Penting juga untuk dipahami bahwa lonjakan imbal hasil baru-baru ini tidak serta-merta mengindikasikan akan segera terjadinya krisis fiskal atau inflasi di AS.

"Hal ini tercermin dari bentuk kurva imbal hasil; meskipun terjadi pelandaian yang berkurang (steepening), selisih (spread) antara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun dan 30 tahun masih berada sedikit di atas 1 persen. Kami terus memantau hal ini dengan cermat, namun jika pasar benar-benar mengantisipasi krisis fiskal di AS, kita semestinya melihat kurva yang jauh lebih curam daripada itu," lanjut Hulick.

Para pelaku pasar kini menantikan Simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole pekan depan untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah suku bunga.

Sektor Material dan Kripto Mendorong Wall Street

Beralih dari pasar obligasi, Wall Street pada Jumat mendapat dorongan dari lonjakan sebesar 2,2 persen pada sektor material indeks S&P 500. Kenaikan ini didukung oleh harga tembaga yang mencetak rekor bulan ini akibat kombinasi berbagai faktor: kelangkaan pasokan, penurunan produksi tembaga olahan dari China, ketidakpastian terkait tarif AS atas impor tembaga, serta permintaan masif terhadap logam tersebut untuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Kontrak berjangka tembaga di London Metal Exchange ditutup pada level USD14.036,50 per ton, sementara kontrak berjangka tembaga COMEX naik 1,8 persen menjadi USD6,5823 per pon.

Sentimen positif di pasar pada Jumat juga didorong oleh saham-saham terkait mata uang kripto; Robinhood Markets dan Coinbase masing-masing ditutup dengan kenaikan 13,7 persen dan 8,2 persen, serta menempati posisi tiga besar dalam hal persentase kenaikan pada indeks acuan S&P 500.

Bitcoin dan mata uang kripto lainnya mencatat lonjakan permintaan yang signifikan minggu ini menyusul langkah intervensi Departemen Keuangan AS dan seruan Presiden Donald Trump kepada para pembuat kebijakan untuk mengesahkan regulasi yang jelas bagi industri tersebut.

Di sisi lain, agenda ekonomi pada Jumat diwarnai oleh rilis data awal Purchasing Managers’ Index (PMI) dari S&P Global.

Berdasarkan data tersebut, pertumbuhan aktivitas bisnis AS meningkat ke angka 56,0 pada Agustus, melampaui estimasi sebesar 54,0 dan naik dari angka 54,5 pada Juli. Angka ini mencerminkan laju pertumbuhan tercepat sejak April 2022. Peningkatan tersebut didorong oleh kinerja kuat aktivitas bisnis di sektor jasa, yang mencapai laju tercepatnya sejak Desember 2024. Namun, pertumbuhan sektor manufaktur justru menyentuh level terendah dalam lima bulan.

"Terlepas dari volatilitas pasar obligasi, kami memandang situasi ini sebagai lingkungan yang bullish bagi saham. Pasar ekuitas terus naik karena kinerja laba dan kondisi ekonomi fundamental sedang kuat—pandangan yang juga diperkuat oleh data PMI yang solid hari ini. Harga tembaga yang mencetak rekor dan kenaikan Bitcoin sekitar 20 persen merupakan sinyal bahwa modal sedang beralih ke aset riil (hard assets) dan aset berisiko yang cenderung berkinerja baik di tengah lingkungan suku bunga tinggi," ujar Hulick.

Lebih lanjut, dia mengatakan imbal hasil jangka panjang yang lebih tinggi memang menaikkan standar bagi aset berdurasi panjang seperti saham pertumbuhan (growth stocks), sekaligus meningkatkan risiko yang melekat pada neraca keuangan dengan tingkat utang tinggi.

“Kami tetap lebih memilih sektor material, energi, dan industri dibandingkan sektor-sektor yang paling sensitif terhadap suku bunga. Bagi pasar saham, kinerja laba tetap menjadi faktor kunci, bukan suku bunga ataupun intervensi Departemen Keuangan," tambahnya.

Harga Minyak Mingguan Naik Hampir 5 Persen

Beralih ke Timur Tengah, situasi antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz masih menemui jalan buntu. Pada Kamis, Trump berjanji akan meningkatkan eskalasi perang ekonomi terhadap Iran dan meminta sekutu AS untuk membantu mewujudkan apa yang ia sebut sebagai "D-Day ekonomi" bagi Teheran.

"Ini akan menjadi isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia... Ini adalah pukulan ganda—kita menerapkan blokade dan akan memberlakukan sanksi terberat dalam sejarah," kata Bessent kepada CNBC pada Kamis.

Iran tampaknya mengabaikan ancaman tersebut sembari terus melontarkan retorika keras terhadap AS. Media pemerintah pada Jumat menyatakan bahwa tanggapan Teheran terhadap ancaman baru apa pun dari AS akan bersifat "menghancurkan," mengutip pernyataan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi,. (Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement