Pasar obligasi AS secara khusus mencerminkan peningkatan ekspektasi hawkish tersebut, dengan mengalami aksi jual besar-besaran—terutama pada obligasi tenor panjang—sejak keputusan suku bunga Fed bulan Juli. Lonjakan imbal hasil (yield) yang terjadi kemudian mendorong yield obligasi AS tenor 30 tahun ke level tertinggi dalam hampir dua dekade dan memicu langkah Departemen Keuangan untuk meningkatkan volume pembelian kembali (buyback) instrumen tenor panjang.
Namun, intervensi tak terduga dari Departemen Keuangan tersebut tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Harga obligasi sebagian besar anjlok pada hari Jumat setelah rilis data CPI; yield acuan tenor 10 tahun naik 3 basis poin menjadi 4,974 persen, sementara yield tenor 2 tahun—yang lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga—naik 8 basis poin menjadi 4,630 persen.
Data CPI ini dianggap sebagai faktor penentu terakhir yang menggeser probabilitas suku bunga secara kuat ke arah kenaikan. Masih harus dilihat apakah FOMC benar-benar akan memperketat kebijakan, mengingat latar belakang politik di mana pada 2026 merupakan tahun pemilihan umum sela (midterm election) serta desakan Presiden AS Donald Trump baru-baru ini agar suku bunga diturunkan.
"Fed tidak perlu membuktikan independensinya dengan menaikkan suku bunga; mereka perlu membuktikan independensi dengan bersikap konsisten," kata kepala strategi dan mitra di BakerAvenue Wealth Management, King Lip, kepada Investing.com.
Pasar kini telah memperhitungkan kemungkinan besar kenaikan suku bunga, sehingga keputusan untuk menahan suku bunga (pause) akan membuat penjelasan Fed menjadi sorotan tajam.