Ia menambahkan, jagung yang dikonsumsi sapi berbeda dengan jagung manis yang biasa dimakan manusia. Jagung pakan tersebut dipilih karena mampu menghasilkan kualitas daging yang lebih baik.
Meski dikenal sebagai daging premium, Sabrina mengatakan produk daging sapi AS tidak hanya dipasarkan untuk restoran steak kelas atas. Berbagai potongan sekunder juga dimanfaatkan untuk menu yang lebih terjangkau.
Salah satu contohnya adalah irisan tipis daging sapi yang digunakan dalam menu beef bowl di salah satu restoran makanan cepat saji.
“Di Yoshinoya rice bowl, mereka menggunakan 100 persen daging sapi AS. Jadi kami memiliki berbagai tingkatan pasar, mulai dari steak premium hingga produk yang harganya lebih terjangkau,” tuturnya.
Namun, Sabrina mengakui pangsa pasar daging sapi AS di Indonesia masih tergolong kecil karena harganya lebih tinggi dibandingkan dengan produk impor lainnya.