sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Mendagri: Tidak Ada Lagi Korban Banjir Sumbar yang Ngungsi di Tenda per 24 Maret 2026

News editor Riyan Rizki Roshali
26/03/2026 01:30 WIB
Mendagri Tito Karnavian memastikan tidak ada lagi warga yang tinggal di tenda pengungsian pasca bencana banjir Sumatera Barat per 24 Maret 2026.
Mendagri: Tidak Ada Lagi Korban Banjir Sumbar yang Ngungsi di Tenda per 24 Maret 2026. (Foto Riyan Rizk/IMG)
Mendagri: Tidak Ada Lagi Korban Banjir Sumbar yang Ngungsi di Tenda per 24 Maret 2026. (Foto Riyan Rizk/IMG)

IDXChannel - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memastikan tidak ada lagi warga yang tinggal di tenda pengungsian pasca bencana banjir Sumatera Barat per 24 Maret 2026.

Sebelumnya, kata dia, jumlah pengungsi mencapai ratusan ribu jiwa. Namun, kini seluruhnya telah keluar dari tenda pengungsian setelah proses verifikasi langsung di lapangan.

“Nah saya karena ini highlight-nya kemarin ada isu mengenai pengungsi ya. Tadi sudah disampaikan bahwa jumlahnya 2,1 juta saat itu. Ini untuk di Sumatera Barat, di Sumatera Barat ini dari pengungsi yang ada saat itu data tanggal 12 ya, 18.630 KK meliputi 105.447 jiwa,” kata Tito dalam konferensi pers update PHTC di Kantor KSP, Jakarta Pusat, Rabu (25/3/2026).

“Alhamdulillah saat ini dalam data kita, kami sudah meng-cross check melalui para bupati dan juga ke lapangan, tidak ada lagi yang di tenda per tanggal 24 Maret,” kata dia.

Tito menegaskan, keberhasilan ini tidak lepas dari kerja masif lintas lembaga, mulai dari pemerintah pusat hingga aparat di daerah yang bergerak cepat menyediakan hunian alternatif bagi warga terdampak.

“Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh pihak yang telah bekerja, mulai dari BNPB, kemudian Danantara yang membangun Huntara, Kementerian PU, TNI, Polri, kemudian juga dari Pemda yang bekerja keras,” ujar dia.

Pemerintah juga menggelontorkan berbagai skema bantuan untuk mempercepat pemulihan mandiri masyarakat, terutama bagi pemilik rumah dengan kerusakan ringan hingga sedang.

“Sehingga alternatifnya memang ada tiga. Yang pertama adalah para pengungsi, saya ulangi ada beberapa alternatif, yang rumahnya rusak ringan dan sedang itu diberikan biaya. Ringan Rp15 juta, sedang itu Rp30 juta. Belum tambahan lagi ada yang lain nanti kami sampaikan,” kata dia.

Selain bantuan utama, pemerintah menyiapkan dukungan tambahan berupa bantuan perabotan, stimulus ekonomi, hingga jaminan hidup untuk memenuhi kebutuhan harian warga selama masa transisi.

“Uang perabotan Rp3 juta, bantuan ekonomi Rp5 juta dari Kemensos. Kemudian juga ada anggaran untuk namanya Jadup (Jaminan Hidup), uang lauk pauk Rp15 ribu per orang per hari. Diberikan sebanyak 3 bulan, Rp450 ribu kali tiga,” ujarnya.

Dengan skema tersebut, warga didorong untuk segera memperbaiki rumah secara mandiri dan kembali ke kehidupan normal.

“Jadi kalau yang rumahnya ringan sedang sudah mendapatkan biaya, ya mereka perbaiki sendiri. Sedang Rp30 juta ditambah lagi Rp3 juta untuk perabotan, ditambah lagi untuk bantuan ekonomi. Artinya lebih kurang Rp3 tambah Rp5,8 juta. Rp38 juta belum uang lauk pauk dan lain-lain,” kata dia.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement