AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
17132.22
0.29%
+49.07
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
813,779 / gram

Ramai Jelang Lebaran, Ini Hukum Jasa Penukaran Uang Baru

SYARIAH
Shifa Nurhaliza
Minggu, 09 Mei 2021 14:23 WIB
Bagaimana sebenarnya hukum jasa penukaran uang baru? Jasa penukaran uang bisa ditemukan dengan mudah di jalan menjelang Lebaran.
Ramai Jelang Lebaran, Ini Hukum Jasa Penukaran Uang Baru. (Foto : MNC Media)
Ramai Jelang Lebaran, Ini Hukum Jasa Penukaran Uang Baru. (Foto : MNC Media)

IDXChannel - Bagaimana sebenarnya hukum jasa penukaran uang baru? Jasa penukaran uang bisa ditemukan dengan mudah di jalan menjelang Lebaran. Untuk sebagian orang, jasa yang ditawarkan ini bisa memudahkan karena tidak perlu repot untuk pergi ke bank.

Namun, dalam perkembangannya, praktik penukaran uang ini ternyata menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Bahkan, jasa penukaran uang tersebut erat kaitannya dengan hukum riba, terlebih jika penyedia jasa sengaja melebihkan uang yang ditukarkan.

"Melebihkan tarif uang yang ditukar itu jelas tidak boleh. Milsanya, ada yang tukar uang Rp1 juta tapi sang penyedia jasa meminta bayaran Rp1,1 juta. Ini jelas hukumnya riba karena bentuk bendanya sama. Sama-sama uang," kata Ustaz Najmi Fathoni yang Mengutip dari iNews, Minggu (9/5/2021).

Namun, lain halnya jika seseorang meminta tolong kepada penyedia jasa untuk menukarkan uang mereka, dan setelah selesai ia memberikan sejumlah uang sebagai bentuk rasa terima kasih. Hal tersebut justru lebih baik karena uang 'tambahannya' dipisahkan dari akadnya.

Seperti keterangan dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Jika emas ditukar dengan emas, perak ditukar dengan perak, gandum ditukar dengan gandum, sya’ir (gandum kasar) ditukar dengan sya’ir, kurma ditukar dengan kurma, dan garam ditukar dengan garam, takaran atau timbangan harus sama dan dibayar tunai. Siapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah melakukan transaksi riba. Baik yang mengambil maupun yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Ahmad 11466 & Muslim 4148).

Sementara itu, bila mengutip pernyataan nu.or.id, praktik penukaran uang THR dapat dilihat dari dua sudut. Kalau yang dilihat dari praktik penukaran uang itu (ma'qud 'alaih) adalah uangnya, maka penukaran uang dengan kelebihan jumlah tertentu jelas haram karena praktik ini terbilang kategori riba.

Tetapi kalau yang dilihat dari praktik penukaran uang ini (ma'qud 'alaih) adalah jasa orang yang menyediakan jasa, maka praktik penukaran uang dengan kelebihan tertentu mubah menurut syariat karena praktik ini terbilang kategori ijarah.

Ijarah sebenarnya adalah sejenis jual-beli juga, hanya saja produknya adalah berupa jasa, bukan barang. Karena ijarah adalah sejenis jual beli, maka ia bukan termasuk kategori riba sebagai keterangan Kitab Fathul Mujibil Qarib berikut ini:

“Ijarah (sewa) sebenarnya adalah jual-beli, hanya bedanya ijarah menerima pembatasan tempo. Produk pada ijarah bukan pada barang, tetapi manfaat (jasa) dari sebuah barang atau jasa dari sebuah tenaga (aktivitas),” (Lihat KH Afifuddin Muhajir, Fathul Mujibil Qarib, [Situbondo, Maktabatul As‘adiyyah: 2014 M/1434 H], cetakan pertama, halaman 123).

Perbedaan orang dalam memandang masalah ini muncul karena perbedaan mereka dalam memandang titik akad penukaran uang itu sendiri (ma'qud 'alaih). Sebagian orang memandang uang sebagai barang yang dipertukarkan. Sementara sebagian orang memandang jasa orang yang menyediakan jasa penukaran. (FHM)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD