“Teknologi age inferential memungkinkan algoritma platform untuk membaca kecenderungan perilaku pengguna. Meskipun pengguna tidak menyatakan usia sebenarnya, sistem bisa melakukan profiling berdasarkan konten yang dikonsumsi,” tambahnya.
Sehingga jika terdeteksi pola konsumsi anak, tetapi berada di akun dengan pengguna usia (terdaftar) dewasa, sistem otomatis memblokir akses ke konten berbahaya.
Dia mengatakan sejumlah platform digital besar skala global, seperti YouTube, tengah melakukan uji coba fitur ini di sejumlah regional untuk menguji keandalannya. Termasuk Roblox yang kini menggunakan verifikasi wajah untuk deteksi dan validasi usia user.
Nezar berharap pendekatan safety by design seperti ini bukan sekadar pemenuhan regulasi, melainkan menjadi kultur korporasi demi menciptakan ruang digital yang aman.
Ketua Umum idEA Hilmi Adrianto menyambut baik arahan pemerintah tersebut. Hilmi mengakui bahwa meskipun anak-anak mendapatkan manfaat edukasi dari dunia digital, risiko paparan konten yang tidak sesuai usia pun sangat nyata dan berbahaya.