AALI
9575
ABBA
302
ABDA
6175
ABMM
1370
ACES
1250
ACST
186
ACST-R
0
ADES
3300
ADHI
805
ADMF
7575
ADMG
179
ADRO
2210
AGAR
362
AGII
1410
AGRO
1270
AGRO-R
0
AGRS
149
AHAP
66
AIMS
358
AIMS-W
0
AISA
174
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1045
AKRA
775
AKSI
735
ALDO
1320
ALKA
296
ALMI
296
ALTO
258
Market Watch
Last updated : 2022/01/25 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
502.60
-1.04%
-5.27
IHSG
6568.17
-1.31%
-86.99
LQ45
939.34
-1.07%
-10.15
HSI
24243.61
-1.67%
-412.85
N225
27131.34
-1.66%
-457.03
NYSE
0.00
-100%
-16397.34
Kurs
HKD/IDR 1,840
USD/IDR 14,343
Emas
848,798 / gram

Teropong Kebijakan Global, BI Diprediksi Naikkan Suku Bunga di Semester II-2022

BANKING
Kunthi Fahmar Sandy
Senin, 10 Januari 2022 16:15 WIB
Apabila Bank Sentral AS lebih agresif, maka BI mungkin akan meningkatkan suku bunga acuannya 25bp lebih besar dari skenario dasar kami pada paruh kedua 2022.
Teropong Kebijakan Global, BI Diprediksi Naikkan Suku Bunga di Semester II-2022 (FOTO:MNC Media)
Teropong Kebijakan Global, BI Diprediksi Naikkan Suku Bunga di Semester II-2022 (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Pemerintah serta pengambil kebijakan kemungkinan akan memantau perkembangan dan mempertahankan aset domestik dari dampak negatif perubahan kebijakan global

Dalam Rapat Tahunan 2021, Bank Indonesia mengisyaratkan bahwa kebijakan akan mengarah pada ‘‘pro-kestabilan’ pada 2022, mencakup stabilitas harga, stabilitas rupiah serta pasar keuangan, terutama sebagai tanggapan terhadap peningkatan risiko gejolak lebih besar di pasar global. 

"Setiap pergeseran menuju normalisasi kebijakan kemungkinan besar akan condong ke langkah-langkah manajemen likuiditas pada 2022 sebelum kenaikan tingkat suku bunga menyeluruh," ujar Radhika Rao, Senior Economist DBS Group Research, Senin (10/1/2022). 

Hal ini mungkin ditandai dengan pergeseran bauran jangka waktu pinjaman untuk operasi likuiditas dari jangka pendek ke jangka panjang, juga tergantung pada laju peningkatan pertumbuhan kredit, dengan yang terakhir terbukti menjadi pilihan yang lebih tahan lama untuk mengatasi masalah kelebihan likuiditas. Ini kemungkinan akan diikuti oleh kenaikan rasio cadangan minimum. 

BI pun telah meletakkan dasar untuk perpanjangan pengaturan 'pembagian beban' untuk program pembiayaan pemerintah pada 2022, dan dengan demikian kemungkinan pembelian obligasi dapat diabaikan. 

"Mengingat kondisi saat ini, program pinjaman 2022 juga cenderung lebih kecil dari yang dianggarkan, dengan asumsi percepatan positif kinerja fiskal berlanjut ke tahun 2022," ungkap dia. 

Halaman : 1 2
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD