Kedua, perlambatan pertumbuhan ekonomi global semakin terasa, terutama di dua kekuatan utama, Amerika Serikat dan China.
Sementara itu, ekonomi Uni Eropa, India, dan Indonesia masih menunjukkan ketahanan relatif lebih baik. Namun, penurunan inflasi yang berjalan lebih lambat dari perkiraan menyulitkan manuver kebijakan moneter bank sentral di banyak negara.
Ketiga, tingginya utang pemerintah dan kenaikan suku bunga di negara-negara maju menjadi risiko yang tidak bisa diabaikan.
Defisit fiskal yang melebar memaksa negara-negara tersebut mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Dampaknya, beban bunga dan tekanan fiskal dapat menular ke negara-negara berkembang melalui jalur pasar keuangan global.
Keempat, Perry menyoroti meningkatnya kerentanan sistem keuangan global, terutama terkait lonjakan transaksi produk derivatif yang berlipat di berbagai lembaga keuangan non-bank, termasuk hedge fund yang menggunakan algoritma mesin trading. “Risiko pelarian modal dan tekanan nilai tukar di negara emerging market meningkat tajam jika terjadi guncangan pada instrumen-instrumen ini,” kata Perry.