AALI
12225
ABBA
194
ABDA
6250
ABMM
2950
ACES
985
ACST
159
ACST-R
0
ADES
6200
ADHI
715
ADMF
8075
ADMG
181
ADRO
3160
AGAR
332
AGII
2050
AGRO
920
AGRO-R
0
AGRS
124
AHAP
63
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1160
AKRA
1015
AKSI
374
ALDO
945
ALKA
308
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
0%
0.00
IHSG
6883.50
0%
0.00
LQ45
1009.51
0%
0.00
HSI
20697.36
2.89%
+581.16
N225
26781.68
1.44%
+378.84
NYSE
0.00
-100%
-15035.87
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,693 / gram

Era Digitalisasi, Erick Thohir Ungkap Tantangan Besar yang Dihadapi Generasi Z

ECONOMICS
Avirisda M/Kontributor
Minggu, 28 November 2021 07:25 WIB
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebutkan tiga tantangan besar yang dihadapi para mahasiswa .
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebutkan tiga tantangan besar yang dihadapi para mahasiswa . (Foto: MNC Media)
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebutkan tiga tantangan besar yang dihadapi para mahasiswa . (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebutkan tiga tantangan besar yang dihadapi para mahasiswa sebagai generasi Z. Tantangan – tantangan ini harus bisa dijawab oleh mahasiswa dan masyarakat agar bisa berpartisipasi pada era globalisasi.

Erick, mengatakan bahwa tiga tantangan utama tersebut terkait pasar global, disrupsi digital dan ketahanan kesehatan.

"Ini realitas yang kita harus hadapi bersama, bahwa kita mendapatkan tekanan pada tiga hal. Satu bagaimana pasar globalisasi akan dipaksa dibuka, kedua distrupsi digital yang tidak bisa terbendung, kemudian ketahanan kesehatan yang kita alami saat ini," kata Erick, pada Orasi Ilmiah Globalization ang Digitalization di Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, Sabtu (27/11/2021).

Tantangannya saat ini dikatakan Erick, terkait bagaimana pasar global tersebut dipaksa untuk dibuka. Dimana salah saat ini tengah digaungkan dunia internasional berkaitan green economy atau ekonomi hijau. Ia menilai, pemerintah sangat menyetujui hal tersebut, karena terkait lingkungan hidup adalah masa depan generasi muda Indonesia.

"Indonesia punya komitmen yang sama untuk melakukan transformasi itu. Namun, jika green economy ini disusupi hanya kepentingan agar supaya kita tidak menjadi negara maju, adalah sesuatu yang harus kita tolak," ujarnya.

Dirinya menambahkan, Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di Indonesia, harus dimanfaatkan untuk pertumbuhan bangsa Indonesia dan bukan negara asing. Selain itu, pasar Indonesia juga harus dimanfaatkan untuk pertumbuhan ekonomi yang sebesar-besarnya.

"Kita tidak anti asing. Tetapi sudah sewajarnya SDA kita harus dipakai untuk pertumbuhan ekonomi kita yang sebesar-besarnya," ujarnya.

Kemudian, terkait dengan masalah disrupsi digital, tantangan besar yang dihadapi Indonesia saat ini adanya perkembangan teknologi digital  terkait dengan kesehatan, pendidikan termasuk juga sektor keuangan.


"Health tech, edu tech, fintech adalah kehidupan keseharian kita yang tidak mungkin kita tidak concern mengenai pendidikan dan kesehatan, apalagi sistem pembayaran. Ini juga disrupsi untuk lapangan pekerjaan," ujarnya.

Selain itu, gempuran pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dari era digital juga terbilang tidak mudah. Produk-produk UMKM yang diproduksi di dalam negeri, harus bersaing dengan produk buatan luar negeri yang memiliki harga jauh lebih murah.

"Ketika e-commerce masuk, memang tren belanja online itu naik, tapi barang (buatan) siapa? Padahal UMKM itu menjadi bagian dari tulang punggung ekonomi kita," ujarnya.

Sementara terkait dengan ketahanan kesehatan, lanjutnya, saat ini di dunia tengah terjadi pandemi penyakit akibat penyebaran virus Corona. Pada saat kasus konfirmasi COVID-19 naik, perekonomian Indonesia mengalami penurunan. "Situasi kesehatan, kalau COVID-19 naik, ekonomi turun. Ini musuh yang tidak terlihat," ujarnya.

Salah satu tantangan terbesar dalam menghadapi kondisi tersebut, menurut Erick, adalah ketika bahan baku obat-obatan harus diimpor dari negara lain. Dengan kondisi tersebut, maka harga obat-obatan di dalam negeri melonjak.

"Mayoritas bahan baku obat kita impor, obat mahal," kata Erick.


Dengan kondisi tersebut, Erick sangat sangat berharap seluruh pihak seperti BUMN, universitas yang ada di Indonesia termasuk masyarkat bisa turut serta dalam membangun peta jalan yang diharapkan bisa menjawab tantangan tersebut.

"Ini adalah tiga ancaman yang saya sangat berharap, kita semua apakah BUMN, universitas dan masyarakat harus berpikir secara gotong royong untuk membangun road map yang kita harapkan," tandasnya. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD