Menurut Novani dan Rully, penurunan harga gas dapat membantu mengurangi tekanan biaya yang selama ini membebani industri manufaktur.
Sektor tersebut menghadapi tantangan berupa tingginya biaya energi, penurunan daya saing, serta meningkatnya risiko pengurangan tenaga kerja.
Industri padat gas selama ini menghadapi harga gas industri yang jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara tetangga. Padahal, biaya gas dapat menyumbang sekitar 30-50 persen dari total biaya produksi.
"Penurunan harga gas diperkirakan mampu menekan biaya operasional secara signifikan, memperbaiki margin keuntungan perusahaan, mengurangi risiko penutupan pabrik dan pemutusan hubungan kerja (PHK), serta membantu mempertahankan kapasitas produksi," tulis Novani dan Rully dalam riset tersebut.
Meski demikian, kebijakan ini dinilai lebih berperan sebagai bantalan terhadap tekanan ekonomi dibandingkan sebagai pendorong pertumbuhan baru.