INACA mencatat jumlah penumpang dan kargo, baik domestik maupun internasional, mengalami fase stagnasi sepanjang 2024 hingga 2025. Kondisi ini berbeda dengan periode 2022-2023 ketika industri mencatat pertumbuhan tinggi seiring pemulihan mobilitas masyarakat setelah pandemi.
Menurut Denon, pertumbuhan industri ke depan akan dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain penambahan armada pesawat yang beroperasi, kebijakan pemerintah dalam menekan harga tiket pesawat, pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan berada di atas 5 persen per tahun, hingga mulai beroperasinya Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai pusat pemerintahan pada 2028.
Selain itu, perkembangan pesat bisnis e-commerce, ekspansi proyek hilirisasi industri, serta peningkatan ekspor dan impor produk yang membutuhkan pengiriman cepat juga diperkirakan akan mendorong pertumbuhan sektor penerbangan, khususnya angkutan kargo.
Namun, INACA mengingatkan bahwa industri masih menghadapi sejumlah tantangan dalam periode 2026-2030. Salah satunya adalah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong kenaikan harga avtur, menguatkan dolar Amerika Serikat, serta mengganggu operasional penerbangan ke kawasan tersebut.
Di sisi lain, organisasi maskapai tersebut melihat adanya sejumlah peluang yang dapat menopang kinerja industri, termasuk kebijakan pemerintah yang lebih responsif terhadap fluktuasi harga bahan bakar melalui skema fuel surcharge yang fleksibel, pembahasan revisi Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB), serta program penurunan harga tiket pesawat melalui pengurangan berbagai komponen biaya yang ditanggung pemerintah dan badan usaha milik negara.