“Yang membedakan adalah pada tahap memasak. Di Jepang, suhu setiap menu diukur sebelum disajikan, dengan standar minimal 80 derajat Celsius untuk memastikan makanan aman,” katanya.
Selain menyampaikan masukan, delegasi Jepang juga menawarkan kerja sama berupa program magang bagi siswa SMK Yayasan Bina Mulia jurusan Tata Boga. Jepang juga membuka peluang pelatihan bagi Kepala SPPG Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bagian dari upaya transfer pengetahuan.
Sebagai informasi, Jepang telah menjalankan program makan siang sekolah sejak 1889 atau lebih dari 137 tahun lalu. Pengalaman panjang tersebut dinilai relevan sebagai referensi dalam meningkatkan kualitas dan keamanan pangan Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia.
(Dhera Arizona)