sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kilas Balik Kinerja Rupiah Setiap Masuk Tahun Politik

Economics editor Maulina Ulfa - Riset
20/10/2023 07:30 WIB
Bank Indonesia (BI) mengeluarkan jurus pamungkas untuk menyelamatkan rupiah dari tren pelemahan.
Kilas Balik Kinerja Rupiah Setiap Masuk Tahun Politik. (Foto: MNC Media)
Kilas Balik Kinerja Rupiah Setiap Masuk Tahun Politik. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Bank Indonesia (BI) mengeluarkan jurus pamungkas untuk menyelamatkan rupiah dari tren pelemahan. Berdasarkan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung Kamis (19/10/2023), bank sentral akhirnya menaikkan suku bunga kembali.

Mengutip Reuters, Selasa (17/10), BI diperkirakan akan mengikuti bank sentral di kawasan Asia Tenggara dan mempertahankan suku bunga acuan pada RDG kali ini.

Namun, prediksi mayoritas ekonom ini meleset. Nyatanya, hasil RDG BI memutuskan untuk menaikan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis points (bps) sebesar 6 persen. Sementara BI mempertahankan Deposit Facility sebesar 5,25 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen.

"Kenaikan ini untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak ketidakpastian global," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat konferensi pers Kamis (18/10/2023).

Sebelumnya, 36 ekonom dalam jajak pendapat Reuters pada 10-16 Oktober memproyeksikan bank sentral tersebut akan mempertahankan suku bunga untuk kali kesembilan berturut-turut. Pendapat ini mempertimbangkan inflasi yang berada pada titik terendah dalam 19 bulan sebesar 2,28 persen pada September dan berada di kisaran target BI sebesar 2-4 persen.

Tak hanya itu, riuh sentimen konflik Israel vs Hamas dan pencalonan wakil presiden (cawapres) pemilihan umum (pemilu) 2024 juga menjadi sentimen bagi pergerakan rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Kinerja Rupiah di Tahun Politik

Berbarengan dengan RDG BI, hari ini, 19 Oktober 2023 merupakan waktu pembukaan pendaftaran bakal calon presiden (bacapres) dan bakal calon wakil presiden (bacawapres) RI. Pendaftaran dilakukan di gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jakarta Pusat.               

Ini menandai momen kontestasi politik di Indonesia telah dimulai. Dinamika pesta demokrasi yang akan terjadi awal tahun depan membuat pasar juga bereaksi, salah satunya adalah pergerakan rupiah yang melemah dalam dua bulan terakhir.

Pergerakan rupiah dalam momen pemilihan umum presiden (pilpres) selalu menarik untuk diamati meskipun belum tentu berkorelasi secara langsung.

Menariknya, dalam tiga kali perhelatan pilpres pasca-krisis ekonomi 1998, yakni pada pilpres 2009, 2014, dan 2019, nilai tukar rupiah selalu menunjukkan tren penguatan dalam sepekan sebelum dan sesudah pencoblosan.

  1. Rupiah Jelang Pilpres 2009

Di tahun ini, KPU mengumumkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono sebagai presiden dan wakil presiden dengan memperoleh suara 60,80 persen. SBY terpilih untuk dua periode berturut-turut. Pasangan ini mengalahkan pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto dan Muhammad Jusuf Kalla-Wiranto.

Pemilu 2009 merupakan tahun yang penuh dengan guncangan ekonomi makro eksternal. Di antaranya adalah krisis finansial yang melanda Amerika Serikat (AS).

Krisis ekonomi yang melanda AS sejak 2007 membuat bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) terus memangkas suku bunga hingga mencapai rekor terendah 0,0 persen - 0,25 persen di awal 2009.

Selain itu The Fed juga mulai membanjiri likuiditas di pasar untuk memacu perekonomian atau yang dikenal dengan istilah quantitative easing periode pertama.

Dua faktor tersebut membuat dolar melemah terhadap rupiah di 2009, meski Bank Indonesia (BI) juga menurunkan BI Rate sejak 19 Agustus 2016 dari sebelumnya mencapai 8,75 persen hingga menjadi 6,5 persen.  

Dalam pekan pemilu, pada perdagangan 6 Juli 2009, rupiah ditutup melemah ke 10.280 per USD, dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di kisaran Rp10.225 per USD.

Pada perdagangan 7 Juli 2009, rupiah ditutup di level Rp10.255 per USD, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp10.285 per USD. Adapun pemungutan suara dilakukan pada 8 Juli 2009.

Secara tahunan, rupiah pada 2009 berada di level Rp9.400 per USD, menguat 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level Rp10.950 per USD. (Lihat grafik di bawah ini.)

  1. Kinerja Rupiah pada Pemilu 2014

Memasuki 2014, pemilu akhirnya dimenangi oleh pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla dengan memperoleh suara sebesar 53,15 persen.

Pasangan ini mengalahkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang memperoleh suara sebesar 46,85 persen sesuai dengan keputusan KPU RI pada 22 Juli 2014.

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement