sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kilas Balik Kinerja Rupiah Setiap Masuk Tahun Politik

Economics editor Maulina Ulfa - Riset
20/10/2023 07:30 WIB
Bank Indonesia (BI) mengeluarkan jurus pamungkas untuk menyelamatkan rupiah dari tren pelemahan.
Kilas Balik Kinerja Rupiah Setiap Masuk Tahun Politik. (Foto: MNC Media)
Kilas Balik Kinerja Rupiah Setiap Masuk Tahun Politik. (Foto: MNC Media)

Di tahun tersebut, rupiah bergerak lebih stabil terhadap dolar AS meski masih melemah 1,8 persen. Pelemahan terjadi akibat The Fed mulai mengurangi quantitative easing, atau kala itu populer dengan sebutan tapering tantrum.

Pada Pilpres 2014, Nilai tukar rupiah terhadap USD juga hampir menyentuh level Rp12.000 per USD per 5 Juni 2014. nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat kembali melemah dari hari sebelumnya yakni Rp11.810 per USD dan pada 5 Juni 2014 menjadi Rp11.874 per USD.

Setelah pemilihan presiden pada Rabu, 9 Juli 2014, menurut kurs tengah BI, rupiah juga menguat di level Rp11.500 per dolar Amerika Serikat, setelah pada pekan sebelumnya melemah hingga Rp12.000 per dolar.

Sepanjang 2014, rupiah menguat di level Rp12.440 per USD dibanding tahun sebelumnya yang hanya Rp12.189. Namun, kala itu, rupiah telah melemah 32 persen sejak tahun 2009.

  1. Kinerja Rupiah di Tahun Politik 2019

Pemilu 2019 kembali dimenangkan oleh petahana Joko Widodo yang kala itu berpasangan dengan Ma’ruf Amin sebagai pasangan cawapres.

Pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin menang dengan perolehan suara 55,50 persen untuk periode kedua berturut-turut. Diikuti oleh Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dengan perolehan suara 44,5 persen. Pemilihan ini dilaksanakan serentak dengan pemilihan umum legislatif.

Jelang pemilu, tepatnya pada 15 April 2019, rupiah menguat 0,25 persen di level Rp14.055 dibandingkan posisi penutupan perdagangan akhir pekan sebelumnya.

Sepanjang 2019, rupiah berada di kisaran Rp13.901 per USD atau menguat 4 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp14.481 per USD. Meski menguat, kinerja rupiah pada 2019 sudah melempem 48 persen sejak 2009.

  1. Jelang Pemilu 2024

Menjelang tahun depan, pemilu akan dilaksanakan pada Rabu, 14 Februari 2024. Ahli berpandangan, pemilu kali ini diyakini akan menimbulkan dampak terhadap kinerja perekonomian Indonesia, termasuk melemahnya nilai tukar rupiah dan investasi asing (foreign direct investment/FDI). 

Hal ini disampaikan Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede dalam acara diskusi 'Kupas Asumsi Makro APBN 2024' di Cipanas, Jawa Barat, Senin (25/9/2023).

Josua menilai, pelaksanaan pemilu 2024 bisa membuat rupiah melemah hingga tertahannya investasi asing ke Indonesia. Dalam kondisi ini, investor cenderung lebih memilih untuk wait and see.

Josua juga mencontohkan indikator perekonomian usai pemilu 2004, 2009, serta 2019. 

"Kalau kita lihat (situasi pemilu) 2004 dan 2009, cenderung ada beberapa kondisi IHSG dari sisi pelemahan rupiah," ujarnya

Sepanjang dua bulan terakhir, rupiah terpantau melemah terhadap USD. Per pukul 10.05 WIB (19/10), mata uang Garuda melemah 0,76 persen ke posisi Rp15.839 per USD. Ini membuat rupiah melemah 0,92 persen dalam sepekan dan melemah 3,08 persen dalam sebulan.

Rupiah saat ini melorot sekitar 8,8 persen sejak level tertinggi di 2023, Rp14.560 per USD pada 4 Mei lalu. Dengan ini, rupiah mencatatkan kinerja terlemah sejak 2020. (Lihat grafik di bawah ini.)

3 Jurus BI Hadapi Pelemahan Rupiah

Pelemahan rupiah kali ini tentu bukan sebuah sinyal positif bagi perekonomian nasional. Demi menjaga stabilitas rupiah, kunci kebijakan saat ini berada di tangan bank sentral, dalam hal ini Bank Indonesia dalam mengatur suku bunga.

BI menyebut setidaknya terdapat tiga resep dalam menjaga stabilitas makroprudensial di antaranya melalui intervensi, pendalaman pasar rupiah dan valas, dan juga kebijakan suku bunga.

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement