IDXChannel — Pemerintah terus mempercepat transformasi industri logam nasional melalui hilirisasi mineral dan pengembangan industri berbasis energi hijau. Hingga kini terdapat 28 fasilitas smelter mineral serta tujuh fasilitas pengolahan batu bara yang sudah beroperasi maupun dalam proses pembangunan di Indonesia.
Ketua Tim Industri Logam Bukan Besi Direktorat Industri Logam Kementerian Perindustrian, Yasalini Kusuma Dewi, menegaskan bahwa penguatan industri logam menjadi bagian penting dari agenda industrialisasi nasional yang didorong pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Indonesia memiliki potensi luar biasa dalam strategi komoditas seperti nikel, alumunium, copper, dan zinc,” ucap Yasalini pada forum MET Connex 2026 MinE AiDiC, Strengthening Indonesia’s Metallurgy and Mining Industry: Towards Sustainable Growth and Global Competitiveness di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Ia menambahkan bahwa hilirisasi industri logam tidak lagi hanya berfokus pada ekspor bahan mentah, melainkan diarahkan untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi seperti komponen elektronik, kabel, hingga material pendukung transisi energi.
Selain itu, pengembangan aluminium hijau dinilai akan menjadi salah satu penopang utama industri masa depan, terutama karena kebutuhan aluminium meningkat di sektor otomotif, konstruksi, panel surya, elektronik, hingga infrastruktur energi.
Sementara itu, Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral & Batu Bara Direktorat Mineral & Batu Bara Kementerian ESDM, Ahmad Syauqi, menyebut bahwa industri pengolahan masih menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2025 sebesar 1,6 miliar persen.
“Secara khusus industri lokal dasar menumbuh luar biasa sebesar 15,71 persen didorong oleh tingginya permintaan luar negeri untuk baja dan logam mulia,” ucap Ahmad di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Ini membuktikan bahwa hilirisasi telah memperkuat ketahanan ekonomi nasional Indonesia. Ia juga menyoroti komitmen pemerintah dalam mendorong proyek hilirisasi melalui pembangunan berbagai fasilitas pengolahan mineral bernilai tambah tinggi, mulai dari pengolahan nikel, bauksit, tembaga, besi, emas, hingga timah.
“Mari kita berperformasi dari sekedar eksportir-eksportir pemerintah menjadi pemain utama dan mengendalikan nilai global untuk kepentingan nasional yang terbaik,” tuturnya.
Reporter: Eugenia Siregar
(Febrina Ratna Iskana)