Skema pemindahan anggaran ini diharapkan menjadi solusi bersama yang menguntungkan semua pihak bahkan berpotensi melampaui target pertumbuhan ekonomi nasional di level 5,2 persen. Kecepatan pemulihan ini juga sangat bergantung pada akselerasi arus masuk modal dan pembenahan jalur perdagangan internasional.
Perlambatan laju produk domestik bruto pasca-pengetatan belanja di kuartal pertama mempertegas pentingnya menjaga mesin pertumbuhan cadangan seperti ekspor. Pemerintah didorong mengombinasikan pelonggaran fiskal yang terukur dengan fleksibilitas pengelolaan nilai tukar rupiah sebagai instrumen pelindung ekonomi.
"Investasi kalau balik lagi cepat, ekonomi akan terjaga di atas 5 persen. Jadi ekspor kuncinya, didukung fleksibilitas nilai tukar sebagai shock absorber," katanya.
Enrico menerangkan soal setelah mencatatkan pertumbuhan 5,6 persen di kuartal pertama, laju ekonomi berisiko tertahan di kisaran 5 persen akibat penahanan belanja fiskal. Atas dasar itu, kebijakan anggaran harus direkalibrasi secara matang sembari terus menjaga kepercayaan pelaku pasar global.
Selain mengelola stabilitas nilai tukar dan anggaran, penguatan fondasi sektor sekunder menjadi agenda penting guna menghalau risiko deindustrialisasi prematur. Reformasi struktural direkomendasikan berfokus pada pengembalian industri manufaktur sebagai penopang utama sebelum menggeser tumpuan ekonomi ke sektor jasa.
"Kita harusnya membangun kembali manufaktur untuk menyerap tenaga kerja, mengekspor bahan baku lokal, dan menjaga sektor sirkular. Kita langsung menyeberang ke sektor jasa itu tidak sustainable," katanya.