Dia menilai sinyal penurunan kapasitas industri dalam negeri saat ini masih berupa riak sementara (blip), namun perlu diantisipasi agar tidak mengarah pada deindustrialisasi jangka panjang. Penguatan manufaktur sangat krusial karena ekonomi tidak bisa terus bersandar pada sektor primer ekstraktif yang minim nilai tambah.
Sementara itu, penurunan daya saing manufaktur domestik tercermin dari indeks manajer pembelian (PMI) yang merosot akibat mahalnya biaya operasional riil. Tantangan efisiensi ini terlihat nyata ketika produktivitas industri lokal disandingkan dengan negara kompetitor terdekat di kawasan regional, seperti Vietnam.
Menurutnya, ada Kesenjangan indeks Incremental Capital Output Ratio (ICOR), yang menunjukkan bahwa proses pembuatan produk di dalam negeri membutuhkan tenaga kerja dua kali lipat lebih banyak dibandingkan Vietnam.
Untuk memotong rantai inefisiensi tersebut, ia menekankan pentingnya intervensi fiskal untuk mendanai program pelatihan kejuruan yang lebih terarah bagi para pekerja.
"Bedanya (Indonesia dengan Vietnam) ada di ICOR kita yang ketinggian, membuat produksi di sini lebih mahal dibanding Vietnam. Tugas kita menaikkan efisiensi produksi dan mendirikan sekolah vokasi," kata Enrico.
(Nur Ichsan Yuniarto)