Indonesia juga mengimpor komoditas dari Maroko. Antara lain pupuk mineral, pupuk fosfat, alumunium mentah, dan pakaian wanita. Nilainya mencapai USD80,1 juta pada tahun lalu.
Percepatan perundingan perjanjian perdagangan ini didorong oleh Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, pada pertemuan tindak lanjut hubungan ekonomi dan perdagangan bilateral Indonesia-Maroko dengan Wakil Menteri Luar Negeri Bidang Perdagangan Luar Negeri Kerajaan Maroko, Omar Hejira yang digelar secara daring pada Kamis (27/8/2026) kemarin.
Roro menilai, reaktivasi perundingan ini merupakan momentum krusial untuk memberikan kepastian hukum dan iklim perdagangan yang kondusif.
Dia menekankan bahwa kerangka kerja sama ini berfokus pada penyusunan jadwal kerja yang realistis, kelanjutan negosiasi berbasis draf naskah yang ada, serta penetapan ambisi akses pasar yang seimbang dan saling menguntungkan kedua belah pihak.
“Indonesia siap bekerja sama secara konstruktif dengan Maroko untuk mengakselerasi proses perundingan ini. Momentum ini harus dilihat sebagai peluang bagi kedua negara untuk mewujudkan hubungan politik yang kuat menjadi manfaat ekonomi yang nyata dan berkelanjutan,” papar Roro dalam keterangan resminya, Jumat (28/8/2026).